
METRO NTT — Dunia Timur Tengah tengah diguncang oleh sebuah rekaman audio misterius yang ditayangkan oleh stasiun televisi satelit Al-Haqiqa. Dalam rekaman tersebut, terdengar suara yang mengaku sebagai seorang pangeran Kuwait—dan lebih mengejutkan lagi—mengaku telah meninggalkan Islam dan berpindah keyakinan ke agama Kristen.
“Saya percaya jika saya dibunuh, saya akan bersama Yesus Kristus selamanya,” ujar suara dalam rekaman yang disebarluaskan awal Juli ini. Identitas sang pembicara diklaim sebagai “Pangeran Abdullah Al-Sabah”, sosok yang menurut narasi rekaman, kini menjadi seorang pengikut Kristus.
Tak hanya itu, suara tersebut juga melontarkan kritik tajam terhadap kelompok-kelompok Islam radikal, termasuk mereka yang meraih kemenangan dalam pemilu parlemen Mesir. “Kelompok-kelompok Islamis selalu ingin menyerang berbagai kota di seluruh dunia, tetapi Tuhan melindungi dan masih melindungi dunia,” katanya lantang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, pemerintah Kuwait bereaksi cepat. Dalam pernyataan resminya, mereka membantah keras keberadaan sosok bernama “Abdullah Al-Sabah” dalam struktur resmi keluarga kerajaan Kuwait. Otoritas menyebut rekaman tersebut sebagai “hoaks jahat” yang bertujuan menciptakan kegaduhan.
Namun, misteri justru makin dalam.
Jurnalis senior Marco Tosatti dari Vatican Insider menulis bahwa memang benar nama “Abdullah” pernah muncul dalam silsilah panjang keluarga Al-Sabah, namun tidak ditemukan di antara tokoh-tokoh kerajaan aktif saat ini. “Bukan tidak mungkin, orang ini adalah anggota keluarga yang disembunyikan atau memakai nama lain,” tulisnya dalam artikelnya.
Lebih membingungkan lagi, muncul spekulasi bahwa sosok dalam rekaman itu bisa jadi adalah Shaikh Faisal Al Abdullah Al Sabah, seorang pangeran Kuwait yang pernah dijatuhi hukuman mati pada 2010 karena kasus pembunuhan keponakannya. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi yang dapat memastikan bahwa suara dalam rekaman dan sosok yang dihukum mati itu adalah orang yang sama.
Sementara kabar ini masih menjadi perbincangan panas di dunia maya dan media internasional, pemerintah Kuwait justru memilih langkah diplomatis. Mohammad Al-Nomas, Menteri Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, mengeluarkan pernyataan resmi yang mengajak pada toleransi, dialog, dan kerja sama antara mayoritas Muslim dan minoritas Kristen di negara tersebut.
“Meski Kuwait dikenal lebih toleran dibanding negara Teluk lainnya, mengajarkan agama Kristen tetap dilarang secara hukum, bahkan kepada umat Kristen sendiri,” tulis organisasi internasional The Voice of the Martyrs yang berbasis di Kanada.
Apakah rekaman ini adalah pengakuan iman terakhir seorang pangeran yang dikucilkan? Ataukah ini hanya sebuah rekayasa politik bermotif sektarian? Publik dunia masih menanti jawaban. Satu hal yang pasti—rekaman ini telah membuka luka lama dan mengguncang fondasi sosial keagamaan di kawasan Teluk. ***








