METRO NTT — Kunjungan kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melky Laka Lena, ke lokasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Poco Leok, Rabu pagi (16/7), diwarnai ketegangan. Puluhan warga dari sejumlah kampung adat menggelar aksi damai menolak proyek geothermal dan hasil uji Tim Satgas yang dibentuk oleh pemerintah provinsi.
Dari pantauan di lapangan, iring-iringan kendaraan yang mengangkut rombongan gubernur dikawal ketat oleh aparat kepolisian bersenjata laras panjang dan sejumlah petugas pengamanan berpakaian sipil. Beberapa warga terlihat berdiri di pinggir jalan, membawa poster dan meneriakkan penolakan terhadap aktivitas eksplorasi panas bumi di wilayah adat mereka.
Aksi warga ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap sikap Pemerintah Provinsi NTT yang dinilai mengabaikan aspirasi masyarakat lokal yang selama ini menolak proyek PLTP karena alasan lingkungan, sosial, dan kultural.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami bukan menolak pembangunan. Kami menolak cara pemerintah memaksakan proyek geothermal yang merusak tanah adat dan tidak transparan kepada masyarakat,” ujar salah satu tokoh adat yang hadir dalam aksi tersebut.
Penolakan terhadap Satgas dan Hasil Uji
Gubernur Melky sebelumnya membentuk tim satuan tugas (Satgas) independen untuk melakukan uji teknis dan sosial atas keberlanjutan proyek panas bumi di Poco Leok. Namun hasil uji itu dianggap tidak kredibel oleh warga, karena tidak melibatkan perwakilan komunitas adat secara penuh.
“Tim Satgas hanya formalitas. Hasilnya dibuat untuk melegalkan proyek. Kami menolak laporan itu,” tegas seorang perwakilan pemuda dari Kampung Lungar.
Situasi Mencekam tapi Kondusif
Meski pengamanan terlihat ketat dan sejumlah aparat membawa senjata laras panjang, situasi di lokasi kunjungan tetap berjalan kondusif. Gubernur Melky Laka Lena sempat berdialog singkat dengan warga sebelum melanjutkan kunjungannya ke titik pengeboran PLTP.
“Kami akan tetap mendengarkan masyarakat. Tapi pembangunan tidak boleh berhenti,” ujar Melky singkat kepada wartawan di lokasi.
Kehadiran aparat bersenjata justru menjadi sorotan sebagian warga. Mereka menilai pendekatan kekuasaan seperti itu hanya memperdalam trauma dan memperkeruh suasana.
“Ini kampung kami, bukan daerah konflik. Kenapa harus pakai senjata laras panjang?” tanya seorang ibu yang mengikuti aksi.
Suara dari Lembah Poco Leok
Proyek PLTP Poco Leok telah lama menjadi isu sensitif di Manggarai Timur. Sejumlah kelompok masyarakat sipil, mahasiswa, dan tokoh gereja telah menyatakan penolakan terhadap proyek tersebut. Mereka menilai proyek ini lebih banyak menguntungkan investor dan berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis di kawasan yang dikenal sebagai lumbung air dan pusat pertanian warga.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemprov NTT mengenai kelanjutan proyek geothermal usai kunjungan hari ini. **






