METRO NTT – Persoalan keterlambatan pembayaran upah para pekerja proyek pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Pong Majok, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, akhirnya menemukan titik terang.
Setelah sempat menjadi keluhan para pekerja, hak mereka kini telah dibayarkan menyusul adanya mediasi yang dipimpin langsung oleh Komandan Kodim (Dandim) 1630/Manggarai Barat, Letkol Inf. Budiman Manurung, S.E., M.I.P.
Penyelesaian persoalan tersebut disambut penuh rasa syukur oleh para pekerja. Mereka mengaku lega karena penantian panjang untuk memperoleh hak atas hasil kerja akhirnya berakhir dengan penyelesaian yang mengedepankan dialog dan musyawarah.
Sebelumnya, keterlambatan pembayaran upah menjadi perhatian masyarakat setelah sejumlah pekerja menyampaikan keluhan mengenai belum diterimanya hak mereka, padahal pekerjaan pembangunan telah berjalan sesuai target yang ditentukan.
Kondisi tersebut membuat para pekerja berharap adanya pihak yang dapat menjembatani komunikasi antara pekerja dan pelaksana proyek agar persoalan tidak semakin berkepanjangan.
Harapan itu akhirnya terjawab ketika Dandim 1630/Manggarai Barat turun langsung ke lokasi dan memfasilitasi proses mediasi antara seluruh pihak yang terlibat.
Dalam suasana yang berlangsung kondusif, seluruh pihak diberikan kesempatan menyampaikan pandangan masing-masing hingga akhirnya tercapai kesepakatan penyelesaian pembayaran upah.
Langkah cepat yang dilakukan Dandim mendapat apresiasi dari para pekerja.
Mereka menilai kehadiran aparat TNI tidak hanya menjaga stabilitas wilayah, tetapi juga menjadi jembatan penyelesaian persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Kepala tukang proyek, Philipus Adur, mengaku sangat bersyukur atas kepedulian Dandim yang bersedia turun langsung menangani persoalan tersebut.
Menurut Philipus, para pekerja selama ini hanya menginginkan hak mereka dipenuhi sesuai kesepakatan kerja yang telah dibuat sejak awal.
Ia mengatakan, keterlambatan pembayaran upah sempat membuat para pekerja merasa khawatir karena sebagian besar dari mereka menggantungkan kebutuhan keluarga dari hasil pekerjaan tersebut.
“Kami sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dandim yang telah hadir dan memediasi persoalan ini. Kehadiran beliau memberikan harapan bagi kami. Setelah sekian lama menunggu kepastian, akhirnya hak para pekerja dapat dibayarkan. Kami merasa lega karena persoalan ini bisa diselesaikan secara baik dan kekeluargaan,” ujar Philipus.
Menurutnya, proses mediasi berjalan dengan suasana yang penuh kekeluargaan.
Tidak ada pihak yang dipaksa ataupun ditekan.
Sebaliknya, seluruh persoalan dibahas secara terbuka sehingga menghasilkan solusi yang dapat diterima bersama.
Philipus mengatakan, upah merupakan hak dasar setiap pekerja.
Karena itu, pembayaran tepat waktu menjadi hal yang sangat penting.
Bukan hanya sebagai bentuk penghargaan terhadap tenaga yang telah dicurahkan, tetapi juga menjadi sumber utama penghidupan keluarga.
“Kami bekerja untuk menghidupi keluarga. Karena itu ketika pembayaran terlambat, tentu sangat berdampak terhadap kebutuhan sehari-hari. Syukur, sekarang semuanya sudah selesai dengan baik,” katanya.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dalam pelaksanaan proyek pembangunan berikutnya.
Menurutnya, komunikasi yang baik antara pemberi pekerjaan, pelaksana proyek, dan para pekerja harus terus dibangun agar persoalan serupa dapat dicegah sejak awal.
Philipus juga berharap seluruh pelaksana proyek pembangunan dapat menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran penting.
Menurut dia, penghormatan terhadap hak pekerja merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus dipenuhi dalam setiap pelaksanaan proyek.
Sementara itu, kehadiran Dandim Manggarai Barat dalam penyelesaian persoalan tersebut dinilai menjadi contoh kepemimpinan yang responsif terhadap persoalan masyarakat.
Alih-alih membiarkan persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih besar, pendekatan dialog dipilih sebagai jalan keluar.
Melalui komunikasi yang intensif, seluruh pihak akhirnya mencapai titik temu sehingga pembayaran upah dapat segera direalisasikan.
Para pekerja pun menyampaikan rasa syukur atas berakhirnya persoalan tersebut.
Mereka berharap pembangunan di Kabupaten Manggarai Barat terus berjalan dengan baik tanpa mengabaikan hak-hak pekerja di lapangan.
Selain itu, mereka berharap koordinasi antara seluruh pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan dapat semakin diperkuat sehingga persoalan administratif maupun teknis tidak berdampak terhadap kesejahteraan pekerja.
Bagi para buruh, kepastian pembayaran upah bukan hanya menyangkut aspek ekonomi, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan atas kerja keras yang telah mereka berikan.
Mereka berharap seluruh proyek pembangunan, baik yang bersumber dari pemerintah maupun skema lainnya, dapat mengedepankan prinsip profesionalisme, transparansi, dan tanggung jawab.
Peristiwa di Pong Majok ini juga menjadi pengingat bahwa komunikasi dan mediasi sering kali menjadi jalan terbaik dalam menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Dengan melibatkan semua pihak dan mengutamakan musyawarah, solusi dapat dicapai tanpa harus menimbulkan konflik yang berkepanjangan.
Kini, setelah pembayaran upah diselesaikan, para pekerja mengaku dapat kembali fokus menjalankan aktivitas mereka.
Mereka berharap pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bersama agar setiap proyek pembangunan di masa mendatang berjalan lebih tertib, profesional, dan tetap mengedepankan perlindungan terhadap hak-hak pekerja.
Penyelesaian persoalan pembayaran upah di proyek KDMP Pong Majok sekaligus menjadi bukti bahwa sinergi antara masyarakat, pelaksana proyek, dan aparat mampu menghasilkan solusi yang membawa manfaat bagi semua pihak.
Dengan berakhirnya persoalan tersebut, para pekerja berharap tidak ada lagi keterlambatan pembayaran upah dalam proyek-proyek pembangunan berikutnya sehingga pembangunan dapat berjalan lancar dan kesejahteraan para pekerja tetap terjamin.
Penulis : Fransiskus Econ
Editor : Redaksi






