METRO NTT — Gagasan penguatan identitas Kota Ruteng kembali mengemuka. Dalam sebuah pra-wacana yang digagas oleh Ansel Alaman pada 20 Maret 2026, muncul tawaran arah baru pembangunan kota melalui tagline: “Sejuk, Indah-Bersih, Hijau, Tertib, dan Inklusif.”
Gagasan ini tidak berhenti pada slogan. Ia berangkat dari kegelisahan atas jarak antara potensi alami Ruteng dan realitas pengelolaannya hari ini.
Ruteng selama ini dikenal sebagai kota dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 1.200–1.300 meter di atas permukaan laut. Suhu hariannya berkisar 10–15 derajat Celsius—sebuah keunggulan yang sulit ditandingi banyak kota lain di Nusa Tenggara Timur. Dibandingkan kawasan pesisir seperti Labuan Bajo yang cenderung panas, Ruteng memiliki daya tarik iklim yang potensial untuk wisata berbasis kenyamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, keunggulan tersebut belum sepenuhnya ditopang tata kelola kota yang memadai.
Sampah: Masalah Lama yang Kian Mendesak
Persoalan sampah menjadi salah satu titik krusial. Produksi sampah di Ruteng diperkirakan mencapai 24 ton per hari dan terus meningkat. Sementara itu, kapasitas tempat penampungan sementara di Kecamatan Langke Rembong masih terbatas.
Masalah ini bukan sekadar soal volume, tetapi juga pola pengelolaan dan perilaku. Sampah di pasar, aktivitas pedagang yang belum tertib, hingga kondisi daerah aliran sungai yang kurang terawat memperlihatkan lemahnya koordinasi antara sistem dan kesadaran warga.
Padahal, lanskap Ruteng—dengan hamparan sawah, perbukitan, dan tanaman hias—menyimpan potensi visual yang kuat untuk menopang identitas kota hijau dan bersih.
Dalam diskusi terbatas yang digelar pada 21 Maret 2026, isu ini kembali disorot tajam.
Suster Maria Yohana menekankan pentingnya keterlibatan lintas agama dalam merespons krisis lingkungan. Menurut dia, peran tokoh agama tidak cukup berhenti pada imbauan moral.
“Momentum ini harus menjadi langkah bersama untuk mengembalikan Ruteng sebagai kota yang bersih dan dikenal sebagai ‘Kota Dahlia’,” ujarnya.
Dorongan serupa datang dari Prof. Dr. Hiro Darong. Ia menggarisbawahi adanya kesenjangan antara fasilitas dan perilaku masyarakat.
“Fasilitas ada, tetapi perilaku belum berubah. Ini yang harus kita benahi bersama,” tegasnya.
Ketertiban Kota dan Wajah Publik
Selain sampah, wajah ketertiban kota juga menjadi sorotan. Praktik parkir di badan jalan di kawasan pertokoan, hingga kebiasaan menutup jalan umum untuk kepentingan acara keluarga, dinilai mengganggu mobilitas sekaligus merusak citra kota.
Gonsa Gau menyebutkan bahwa wilayahnya yang dihuni sekitar 70 ribu jiwa menghadapi tekanan serius, termasuk dari munculnya terminal bayangan.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kemacetan, tetapi juga memperparah persoalan sampah dan ketidakteraturan ruang kota.
Sebagai respons, muncul gagasan konkret seperti penyediaan tempat sampah di setiap angkutan kota serta penguatan edukasi sejak dini melalui sekolah.
Inklusivitas: Modal Sosial yang Perlu Dirawat
Di luar persoalan fisik, konsep kota inklusif menjadi bagian penting dalam gagasan ini. Ruteng dinilai telah memiliki fondasi sosial yang relatif terbuka terhadap keberagaman suku, agama, dan latar belakang.
Namun, inklusivitas tidak bisa dibiarkan tumbuh alami tanpa penguatan.
Rm. Dr. Hiro Bandur dari Komisi HAK Keuskupan Ruteng mendorong pembentukan jaringan kerja yang lebih terorganisir.
“Perlu ada gerakan bersama yang terorganisir agar kesadaran ini tidak berhenti di diskusi,” katanya.
Hal senada disampaikan Jelita yang menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor agar gerakan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Sementara itu, Dr. Fransiska Widyawati melihat persoalan ini harus ditangani dari dua sisi sekaligus.
“Secara personal, setiap individu harus membangun kebiasaan baru. Secara struktural, sistem harus mendukung. Prinsip reduce, reuse, recycle harus menjadi gaya hidup di semua level,” jelasnya.
Menghidupkan Kembali “Kota Dahlia”
Gagasan ini juga menghidupkan kembali memori kolektif tentang julukan lama Ruteng: “Kota Dahlia, Kota Molas.” Sebuah simbol kota yang indah, bersih, dan berbasis pada kekuatan estetika lingkungan.
Upaya mengembalikan identitas ini mulai tampak, salah satunya melalui penataan ruang publik di Natas Labar Motang Rua yang menjadi titik awal revitalisasi wajah kota.
Namun, pekerjaan besar masih menanti.
Ruteng hari ini berada di persimpangan: antara mempertahankan potensi sebagai kota sejuk yang alami, atau terjebak dalam persoalan klasik tata kelola perkotaan.
Pra-wacana yang digagas Ansel Alaman dan diperkuat oleh berbagai tokoh lintas sektor ini menunjukkan satu hal: perubahan tidak cukup datang dari kebijakan semata. Ia membutuhkan pergeseran cara berpikir—dari pemerintah hingga warga.
Jika tidak, Ruteng mungkin tetap sejuk secara suhu, tetapi kehilangan makna sebagai kota yang benar-benar nyaman untuk ditinggali dan dikunjungi.
Editor : Redaksi






