METRO NTT — Suasana Lebaran tak hanya dirayakan dalam balutan tradisi saling bermaafan, tetapi juga menjadi ruang memperlihatkan nilai kemanusiaan yang melampaui sekat sosial. Hal itu tergambar dalam kegiatan open house yang digelar Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah, di rumah jabatan pada 21 Maret 2026.
Sejak pagi, halaman rumah jabatan dipenuhi tamu dari berbagai kalangan. Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota Polres, Bhayangkari, hingga masyarakat umum hadir tanpa batas undangan eksklusif. Tidak ada garis pemisah antara pejabat dan warga; semua berbaur dalam suasana santai khas Lebaran.
Berbeda dari seremoni formal pada umumnya, kegiatan ini lebih menyerupai ruang perjumpaan sosial. Tamu datang silih berganti, bersalaman, berbincang ringan, hingga menikmati hidangan yang disediakan. Di sela suasana akrab itu, terdengar lantunan lagu dari para tamu yang ikut memeriahkan pertemuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu momen yang menyita perhatian terjadi ketika seorang warga penyandang disabilitas datang menggunakan kursi roda. Kapolres menyambutnya secara langsung, tanpa protokoler berlebihan. Ia menyapa dengan hangat dan memperlakukannya setara dengan tamu lainnya. Adegan singkat itu menjadi simbol kecil dari pesan yang lebih besar: bahwa ruang kebersamaan semestinya terbuka bagi siapa saja.
Dalam konteks masyarakat Manggarai yang memiliki struktur sosial kultural yang kuat, gestur semacam ini memuat makna tersendiri. Ia seolah menegaskan bahwa perayaan keagamaan dapat menjadi momentum untuk meruntuhkan sekat-sekat sosial, baik yang berbasis status, latar belakang, maupun kondisi fisik.
Levi Defriansyah dalam keterangannya menekankan pentingnya menjaga semangat silaturahmi. Menurut dia, Idul Fitri bukan hanya perayaan personal setelah menjalani ibadah puasa, tetapi juga kesempatan mempererat hubungan sosial. Ia juga mengapresiasi masyarakat Manggarai yang dinilai berperan dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban tetap kondusif.
“Momentum ini penting untuk saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan. Kebersamaan seperti ini harus terus dirawat,” ujarnya.
Open house tersebut berlangsung tanpa gangguan berarti. Tidak ada protokol keamanan yang mencolok, namun kegiatan tetap berjalan tertib. Hal ini mencerminkan hubungan yang relatif cair antara aparat kepolisian dan masyarakat setempat.
Di tengah berbagai tantangan sosial, kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa pendekatan humanis masih menjadi jembatan efektif dalam membangun kepercayaan publik. Lebaran, dalam hal ini, tidak sekadar ritual tahunan, melainkan juga ruang refleksi tentang bagaimana relasi sosial dijalankan—dengan empati, keterbukaan, dan kesetaraan.
Penulis : Agustinus Ardi
Editor : Reims Nahal






