METRO NTT – Gubernur NTT Melki Laka Lena bersama Menteri Koperasi RI Ferry Joko Juliantono menghadiri penutupan Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-XV KSP Tanaoba Lais Manekat (TLM) Indonesia di Kupang, pada Sabtu (25/4/2026).
Gubernur Melki menegaskan koperasi bukan sekadar alternatif, melainkan kebutuhan dasar dalam struktur ekonomi NTT yang ditopang sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan UMKM.
“Di NTT ini koperasi bukan pilihan alternatif, tapi kebutuhan dasar. Di banyak tempat, koperasi hadir lebih dulu sebelum perbankan,” katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
RAT adalah jantung kehidupan koperasi. Di situ anggota menentukan arah, bukan hanya pengurus.
Gubernur Melki juga mengaitkan penguatan koperasi dengan arah kebijakan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto yang kembali menempatkan koperasi sebagai “soko guru” perekonomian, sebagaimana amanat konstitusi dalam Pasal 33 UUD 1945.
Menurutnya, NTT memiliki konteks paling relevan untuk pengembangan model ekonomi koperasi, bahkan disebut sebagai “laboratorium terbaik” karena struktur ekonominya yang berbasis rakyat.
Secara terbuka ia mengaku masih ada persoalan struktural koperasi di NTT, mulai dari banyak koperasi yang tidak aktif dan tidak produktif, keterbatasan akses pembiayaan yang masih bertumpu pada modal internal, ruang ekspansi yang sempit, hingga kapasitas SDM dan tata kelola yang belum optimal serta digitalisasi yang belum merata.
“Ini pekerjaan rumah kita bersama. Koperasi harus tumbuh sehat, produktif, dan adaptif,” tegasnya.
Koperasi yang membebani rakyat seperti pinjol tidak boleh ada lagi di NTT. Kita harus perkuat koperasi yang benar-benar berpihak pada masyarakat.
Dalam laporan kepada Menteri Koperasi, ia menyampaikan pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2025 mencapai 5,14 persen atau sedikit di atas nasional, serta angka kemiskinan turun dari 19,1 persen menjadi 17,5 persen.
Ia juga mendorong penguatan ekosistem koperasi melalui sinergi dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta jaringan distribusi seperti NTT Mart, guna memastikan produk lokal diproduksi, diserap, dan dikonsumsi di dalam daerah.
“Kita ingin produksi anak-anak NTT bisa dijual, dibeli, dan dinikmati oleh masyarakat sendiri,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga meluncurkan produk TLMQUA yang disebut sebagai inovasi bisnis berbasis koperasi dan diproyeksikan mampu menambah keuntungan signifikan bagi KSP TLM.
Sementara itu, Menteri Koperasi RI Ferry Joko Juliantono menilai capaian KSP TLM sebagai salah satu contoh pertumbuhan koperasi yang progresif di Indonesia.
“Tahun lalu asetnya sekitar Rp800 miliar, sekarang sudah mencapai Rp1,2 triliun. Ini kenaikan yang sangat cepat dan jarang terjadi,” ujar Ferry.
Ia menyebut, diversifikasi usaha melalui pengembangan sektor riil di luar simpan pinjam menjadi faktor penting dalam pertumbuhan tersebut dan diyakini akan terus meningkat.
“Kita ingin mengembalikan koperasi sebagai soko guru ekonomi, bukan hanya swasta atau BUMN. Ini amanat konstitusi,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini tengah menjalankan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dengan target 83 ribu unit di seluruh Indonesia.
“Presiden ingin masyarakat desa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi pelaku ekonomi,” ujar Ferry.
Ia juga mendorong kolaborasi pembiayaan antara KSP TLM, Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), perbankan termasuk Bank BUMN dan Bank NTT melalui skema pembiayaan bersama (join financing).
Manajer Utama KSP TLM NTT, Zesly N.W. Pah, melaporkan kinerja koperasi sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan penyaluran kredit mencapai Rp1,9 triliun kepada sekitar 293 ribu anggota.
“Aset kami saat ini mencapai Rp1,2 triliun dan ditargetkan meningkat menjadi Rp1,4 triliun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, KSP TLM telah beroperasi selama 16 tahun dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan pelaku usaha mikro, yang saat ini menjadi mayoritas anggota koperasi.
Sebagai langkah strategis, koperasi juga melakukan spin off sektor riil untuk memperkuat bisnis anggota, serta memperluas jaringan melalui pembukaan cabang di Bali, Flores, dan Sulawesi Tengah.
“Kami juga memperoleh opini audit wajar tanpa pengecualian serta mempertahankan rating yang mencerminkan stabilitas keuangan koperasi. Bagi kami, simpan pinjam hanyalah sarana. Tujuan utama adalah kemandirian dan kesejahteraan anggota,” ujar Zesly.
Penulis : Agustinus Ardi






