METRO NTT – Semangat bertani tak pernah surut dari diri Nenek Jhon Man (70), warga Desa Wangkar Weli, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di usianya yang sudah lanjut, ia justru berani mengambil langkah besar dengan menanam ratusan ribu porang di lahan miliknya.
Di atas lahan seluas satu hektar, Nenek Jhon Man kini fokus membudidayakan porang, komoditas yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi. Padahal sebelumnya, ia mengandalkan tanaman cengkeh dan kopi yang setiap tahun mampu menghasilkan belasan juta rupiah.
Namun, ia memilih beralih setelah melihat peluang yang lebih menjanjikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya ingin ubah cara bertani supaya hidup bisa lebih baik. Porang ini saya yakin bisa bantu ke depan,” ujar Nenek Jhon Man.
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Ia bahkan rela menggusur tanaman cengkeh dan kopi yang sudah lama menjadi sumber penghasilannya. Langkah tersebut diambil setelah ia belajar dan mendapat pemahaman tentang budidaya porang, salah satunya dari Agus Adil yang dikenal sebagai penggerak porang di NTT.
“Saya belajar dari orang yang sudah tahu porang. Dari situ saya mulai yakin dan berani tanam,” katanya.
Kini, ratusan ribu tanaman porang telah tumbuh di lahannya. Meski hasil panen baru diperkirakan pada tahun 2028, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus merawat tanaman tersebut.
“Saya tidak pikir cepat atau lambat panen, yang penting saya fokus kerja dulu. Ini untuk masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, porang bukan sekadar tanaman biasa, tetapi menjadi harapan baru untuk meningkatkan taraf hidup. Ia juga berharap langkahnya bisa diikuti oleh petani lain di desanya.
“Kalau kita mau berubah, kita harus berani coba hal baru. Saya harap orang lain juga bisa ikut tanam porang,” katanya.
Kisah Nenek Jhon Man kini menjadi inspirasi di Desa Wangkar Weli. Di usia senja, ia membuktikan bahwa semangat, keberanian, dan kemauan belajar mampu mendorong perubahan, bahkan dari hal sederhana seperti mengelola lahan pertanian.
Penulis : Agustinus Ardi
Editor : Redaksi






