METRONTT– Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan setelah sempat berada di atas level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah tercatat berada di posisi Rp17.860 per dolar AS atau menguat 129 poin dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.989 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penguatan mata uang Garuda tersebut tidak terlepas dari langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan yang diumumkan pada 9 Juni 2026 itu dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain kenaikan suku bunga, masuknya aliran modal asing ke berbagai instrumen keuangan domestik turut menjadi penopang penguatan rupiah. Dana asing mengalir ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), hingga obligasi internasional yang diterbitkan Danantara.
Bank Indonesia mencatat total dana asing yang masuk melalui instrumen tersebut mencapai sekitar Rp45,92 triliun. Kondisi ini menunjukkan masih tingginya minat investor terhadap aset-aset keuangan Indonesia.
Dari sisi fundamental, perekonomian Indonesia juga dinilai berada dalam kondisi yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama 2026 mencapai 5,6 persen secara tahunan. Kinerja tersebut didukung oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri, percepatan penyaluran tunjangan hari raya, serta pelaksanaan berbagai program pemerintah.
Prospek ekonomi Indonesia yang positif semakin diperkuat dengan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 5 persen pada tahun 2026. Optimisme tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong sentimen positif terhadap rupiah.
Meski demikian, sejumlah tantangan eksternal masih perlu diwaspadai. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, serta fluktuasi harga minyak dunia masih berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah dan memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Penulis : Fransiskus Econ
Editor : Redaksi Metrontt
Sumber Berita : Kompas.com






