METRO NTT– Penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah akibat belum cairnya dana operasional dari pemerintah pusat memunculkan berbagai masukan dari masyarakat penerima manfaat.
Di Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, sejumlah ibu balita menilai penghentian program dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas layanan, terutama terkait distribusi makanan dan kesesuaian menu bagi penerima manfaat.
Fitri, salah satu warga penerima program, mengungkapkan bahwa selama pelaksanaan MBG masih ditemukan sejumlah kendala di lapangan. Menurutnya, jadwal distribusi makanan sering berubah-ubah sehingga menyulitkan keluarga penerima manfaat dalam mengambil paket makanan yang disediakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain persoalan distribusi, beberapa menu yang diberikan dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini. Sejumlah makanan disebut sulit dikonsumsi balita karena tekstur maupun jenis olahan yang kurang ramah bagi anak-anak.
“Harapannya makanan yang diberikan benar-benar disesuaikan dengan usia dan kebutuhan gizi penerima manfaat agar tidak terbuang sia-sia,” ujarnya.
Keluhan serupa juga datang dari sejumlah daerah lain. Beberapa penerima manfaat berharap pemerintah tidak hanya fokus pada perluasan cakupan program, tetapi juga meningkatkan pengawasan terhadap kualitas bahan makanan dan kebersihan dapur penyedia layanan.
Sementara itu, pihak penyelenggara menjelaskan bahwa penghentian sementara operasional sejumlah dapur MBG berkaitan dengan proses penataan administrasi anggaran yang masih berlangsung. Selain faktor pendanaan, sejumlah dapur juga disebut masih harus memenuhi persyaratan fasilitas sanitasi dan pengelolaan limbah sesuai standar yang ditetapkan.
Pemerintah daerah berharap berbagai kendala yang ditemukan selama masa penghentian sementara dapat segera diselesaikan sehingga program MBG dapat kembali berjalan dengan kualitas layanan yang lebih baik dan tepat sasaran bagi masyarakat.
Penulis : Fransiskus Econ
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Kompas






