METRO NTT — Menu masakan dari dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tengah menjadi sorotan publik. Kepala dapur MBG Siru enggan memberikan keterangan kepada wartawan karena mengaku dilarang oleh Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Manggarai Barat.
Pantauan media pada Kamis (29/1/2026), dapur MBG tersebut berlokasi di Siru, Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor. Dapur ini diketahui dikelola oleh kerabat seorang politisi Partai NasDem asal Lembor yaitu Yopi Widyanti yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Manggarai Barat.
Kepala dapur bernama Elen sempat menerima wartawan yang hendak meminta klarifikasi terkait menu MBG berupa sayur labu parut, tempe goreng hambar, dan jeruk asam. Menu tersebut sebelumnya ramai diperbincangkan publik setelah diposting di media sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Awalnya, Elen mempersilakan wartawan masuk ke ruang kerjanya. Namun, di tengah pertemuan, ia tiba-tiba keluar ruangan untuk menerima panggilan telepon. Usai menjawab telepon, Elen kembali dan meminta wartawan menunggu kedatangan pemilik dapur bernama Aleks, sambil meminta ditunjukkan surat tugas liputan.
Setelah surat tugas ditunjukkan, Elen justru menyampaikan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan keterangan kepada media.
“Kami dilarang memberikan keterangan karena atasan kami menyuruh untuk tidak boleh memberikan keterangan,” ujar Elen, yang mengaku pernah berprofesi sebagai wartawan media di Labuan Bajo.
Hal senada disampaikan pemilik dapur MBG Siru, Aleks. Ia menyatakan tidak bersedia memberikan keterangan pers setelah mendapat larangan dari Koordinator BGN Manggarai Barat.
Akibatnya, proses liputan terhenti karena baik pemilik dapur maupun kepala dapur sama-sama menolak memberikan penjelasan resmi.
Viral di Media Sosial
Persoalan ini mencuat setelah akun Facebook bernama Imelda Mam Asilva, yang diketahui menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Malawatar, memposting menu MBG yang disajikan kepada peserta didik.
Dalam unggahannya, Imelda mempertanyakan kandungan gizi dari menu tersebut.
“MBG hari ini, Selasa, 27 Januari 2026. Nasi putih, telur rebus, tempe goreng tanpa rasa, sayur labu, buahnya jeruk asam. Kira-kira berapa nilai gizi dari makanan ini? Sayurnya setiap hari labu parut,” tulisnya.
Saat ditemui awak media, Imelda—yang mengaku bernama lengkap Imelda Nima—menjelaskan bahwa unggahan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap asupan gizi peserta didiknya.
“Programnya sangat bagus, entah seperti apa juknisnya. Yang kami keluhkan itu sayurnya. Dalam satu minggu kemarin, sayurnya labu parut terus. Kata mereka, itu sudah mengandung gizi,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa menu MBG dimasak tanpa MSG atau penyedap rasa, hanya menggunakan gula dan garam. Namun, menurutnya, beberapa kali tempe yang disajikan terasa hambar.
“Sayur yang paling dominan memang labu, karena itu yang paling mudah didapat di pasar,” tambahnya.
Dalam sepekan, MBG diberikan selama lima hari, sementara pada hari keenam peserta didik hanya mendapat makanan ringan.
Tokoh Muda Ikut Soroti Kandungan Gizi
Kritik juga datang dari seorang tokoh muda Lembor berinisial EG. Ia mempertanyakan secara terbuka kelayakan gizi dari menu MBG tersebut.
“Saya kira tanggapan pengelola itu paling penting, menjelaskan manfaat gizi dari menu yang diposting itu. Mana gizinya? Ini pertanyaan untuk memancing semua orang berpikir kritis,” ujar EG.
Ia menilai menu tersebut belum mencerminkan konsep makanan bergizi.
“Coba tanya siapa saja yang merasa cerdas, dari menu itu mana bagian gizinya? Saya sendiri masih bertanya-tanya soal kelayakan gizinya. Mungkin lebih bergizi makanan yang kita ambil langsung dari kebun petani, atau makanan yang disajikan di rumah masing-masing,” katanya.
Tuntutan Transparansi
Berita ini dengan cepat menjadi viral dan mendapat perhatian luas di berbagai media. Keresahan dari lingkungan pendidikan terkait program MBG pun semakin menguat.
Tulisan viral “Labu Parut dan Tempe Hambar Jadi Sajian MBG di Lembor, Di Mana Nilai Gizinya?” dinilai sebagai refleksi kritis seorang pemimpin sekolah yang bertanggung jawab atas kesehatan peserta didik.
Publik menilai penting bagi pengelola dapur MBG untuk terbuka, menjelaskan kandungan gizi setiap menu, serta melakukan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah.
Sekolah, sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap peserta didik, berhak mengetahui secara detail komposisi dan kelayakan gizi makanan yang disajikan.
Di NTT sendiri, sebagian masyarakat menilai bahwa selain program makan gratis, sektor pendidikan gratis dan berkualitas tetap menjadi kebutuhan paling mendasar dalam upaya membangun perubahan peradaban.
Penulis : Fendi Ruem
Editor : Redaksi






