METRO NTT – Perkembangan pesat kawasan pariwisata Labuan Bajo membuka banyak peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Salah satu peluang yang kini mulai dilirik adalah sektor properti, khususnya pembangunan perumahan subsidi yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.
Pengusaha muda asal Kempo, Manggarai Barat, Albertus Elson Dahim menghadirkan konsep pengembangan perumahan subsidi yang tidak hanya bertujuan menyediakan hunian, tetapi juga membuka peluang bisnis bagi generasi muda.
Saat ditemui di kediamannya di kawasan Golo Koe, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (8/3/2026), Albertus menjelaskan bahwa dirinya berencana membangun sekitar 1.000 unit rumah subsidi di Labuan Bajo. Program ini menyasar masyarakat dengan penghasilan sekitar Rp2 juta hingga Rp5 juta per bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Albertus, konsep perumahan subsidi tersebut dapat menjadi peluang usaha bagi kaum muda, terutama di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi di Labuan Bajo yang telah ditetapkan sebagai destinasi pariwisata super prioritas.
Ia menjelaskan, tahap awal proyek yang sedang berjalan saat ini adalah pembangunan sekitar 100 unit rumah subsidi. Program tersebut juga disebut sejalan dengan program nasional pemerintah yang menargetkan pembangunan tiga juta rumah subsidi di seluruh Indonesia.
“Program ini juga menjadi bagian dari upaya menjemput program pemerintah pusat untuk pembangunan tiga juta rumah subsidi. Di Labuan Bajo kami menargetkan sekitar 1.000 unit,” ujar Albertus.
Ia menilai kepemilikan rumah di kawasan pariwisata seperti Labuan Bajo memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Selain sebagai tempat tinggal, rumah tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai rumah sewa bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.
Menurutnya, peluang penyewaan rumah cukup terbuka karena perkembangan sistem bisnis berbasis digital yang memudahkan promosi dan pemesanan hunian oleh wisatawan.
Selain sektor perumahan, Albertus juga melihat peluang ekonomi lain yang dapat berkembang seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, salah satunya industri peternakan babi modern.
Ia menyebutkan, wisatawan asal China yang datang ke Labuan Bajo memiliki preferensi kuliner terhadap menu berbahan dasar daging babi. Kondisi ini dinilai menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk mengembangkan peternakan babi secara lebih modern dan terintegrasi dengan sektor pariwisata.
Selama ini, menurut Albertus, beberapa restoran di Labuan Bajo yang menyajikan menu daging babi masih mengalami kendala pasokan bahan baku. Akibatnya, usaha kuliner tersebut tidak selalu dapat beroperasi secara konsisten.
Karena itu, ia menilai pengembangan peternakan babi modern dapat menjadi solusi untuk memperkuat rantai pasok kebutuhan kuliner di kawasan wisata tersebut.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, pengembangan perumahan juga dinilai penting untuk menjaga tata kota Labuan Bajo di masa depan. Albertus mengatakan, tanpa perencanaan yang baik sejak dini, kota tersebut berpotensi menghadapi persoalan kepadatan penduduk hingga munculnya permukiman kumuh dalam beberapa tahun ke depan.
Ia menambahkan, proyek perumahan yang sedang dikembangkan di kawasan Golo Koe bahkan telah menarik minat pembeli dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri.
“Perumahan yang kami bangun di Golo Koe sudah ada pembeli dari Amerika dan dari Jawa,” ujarnya.
Albertus juga menyebut kebutuhan rumah subsidi di Labuan Bajo saat ini diperkirakan mencapai sekitar 3.000 unit, sehingga peluang pengembangan sektor perumahan masih terbuka luas.
Menurutnya, keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan daerah tidak hanya bertujuan mencari keuntungan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengembangan berbagai sektor usaha secara terpadu.
Ia berharap konsep bisnis tersebut dapat dilihat oleh generasi muda sebagai peluang usaha yang menjanjikan di tengah perkembangan Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia.
Penulis : Fendi Ruem
Editor : Reims Nahal






