METRO NTT — Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dimanfaatkan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, untuk merajut kembali simpul-simpul kebersamaan antar pemangku kepentingan di daerah. Pada Sabtu, 21 Maret 2026, ia melakukan kunjungan silaturahmi ke sejumlah pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi NTT.
Kunjungan yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang itu tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Di tengah suasana lebaran yang identik dengan saling memaafkan, pertemuan lintas institusi ini menghadirkan ruang dialog yang lebih cair—jauh dari protokoler kaku—namun sarat makna strategis.
Sejumlah tokoh yang disambangi antara lain Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTT H. Muhammad S. Wongso, Komandan Korem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Hendro Cahyono, Komandan Lanud El Tari Marsma TNI Somad, Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, hingga anggota DPRD Provinsi NTT H. Mohammad Ansor. Kehadiran Gubernur di kediaman para pimpinan lembaga ini mencerminkan upaya menjaga komunikasi lintas sektor tetap terbuka dan hangat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam keterangannya, Melki menekankan bahwa Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan, melainkan juga sebagai titik refleksi bersama. “Semangat saling memaafkan dan membangun kembali kepercayaan menjadi penting dalam menjaga hubungan kerja antar lembaga,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi satu hal: koordinasi pemerintahan tidak semata dibangun di ruang rapat formal, tetapi juga melalui pendekatan kultural dan emosional. Tradisi silaturahmi, dalam konteks ini, menjadi instrumen sosial yang efektif untuk memperkuat kohesi antar pemimpin daerah.
Lebih jauh, Melki berharap silaturahmi ini dapat memperkokoh sinergi antara Pemerintah Provinsi NTT dan Forkopimda. Ia menilai kolaborasi yang solid menjadi prasyarat utama dalam menjaga stabilitas keamanan daerah sekaligus mendorong percepatan pembangunan.
Dalam beberapa tahun terakhir, tantangan pembangunan di NTT memang tidak ringan. Isu ketimpangan wilayah, akses infrastruktur, hingga penguatan sektor ekonomi lokal membutuhkan kerja lintas sektor yang terkoordinasi. Karena itu, relasi yang harmonis antar institusi menjadi modal sosial yang tak kalah penting dibandingkan kebijakan teknokratis.
Silaturahmi Idul Fitri yang dilakukan Gubernur NTT ini, pada akhirnya, memperlihatkan wajah lain dari praktik pemerintahan: bahwa di balik agenda formal dan target pembangunan, terdapat kebutuhan mendasar untuk menjaga hubungan antarmanusia. Di sanalah, kepercayaan dibangun—dan dari kepercayaan itu pula, kerja bersama menemukan pijakannya.
Penulis : Agustinus Ardi
Editor : Reims Nahal






