METRO NTT – Sebuah tragedi memilukan kembali mengguncang dunia. Gereja Katolik satu-satunya di Gaza yang pernah menjadi tempat favorit mendiang Paus Fransiskus saat masih menjabat sebagai Paus, luluh lantak dihantam serangan udara tentara Israel. Sedikitnya 22 orang tewas dalam peristiwa yang terjadi Kamis pagi, 17 Juli 2025, di tengah bayang-bayang upaya gencatan senjata yang sedang dinegosiasikan di Doha.
Ledakan mengguncang kawasan padat penduduk itu ketika fajar baru menyingsing. Gereja Keluarga Kudus—yang selama ini menjadi simbol ketenangan di tengah konflik berdarah Israel-Palestina—menjadi sasaran kehancuran. Asap pekat mengepul dari reruntuhan, sementara teriakan dan tangis para korban yang selamat menghiasi udara pagi yang mencekam.
Di antara korban luka, ada sosok yang selama ini menjadi penghubung spiritual antara Gaza dan Vatikan: Pastor Gabriel Romanelli. Pastor asal Argentina itu dikenal dekat dengan mendiang Paus Fransiskus dan rutin memberikan kabar terkini tentang situasi Gaza langsung ke Vatikan. Kini, ia terbaring lemah di Rumah Sakit Al-Ahly, kaki kanannya dibalut perban akibat luka serius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini bukan hanya serangan terhadap warga sipil, ini adalah serangan terhadap iman, terhadap kemanusiaan,” ujar salah satu jemaat yang selamat dengan mata sembab.
Patriarkat Latin Yerusalem telah mengonfirmasi bahwa dua orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan tersebut. Namun jumlah korban meningkat drastis dengan kabar duka dari wilayah lain di Gaza: sebuah serangan udara menghantam keluarga di Jabalia, menewaskan satu pria, istrinya, dan lima anak mereka. Delapan pria yang bertugas melindungi truk bantuan juga tewas dalam serangan lain. Tak berhenti di situ, tiga orang dilaporkan tewas di Gaza tengah, dan empat lainnya di kawasan Zeitoun, Gaza timur.
Total korban tewas akibat serangan hari itu mencapai 22 jiwa. Darah, debu, dan puing-puing bangunan menjadi saksi bisu dari kekejaman yang terjadi di hadapan dunia yang terus mencoba berbicara damai.
Militer Israel, dalam pernyataannya, mengaku tengah menyelidiki insiden tersebut. “Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengetahui adanya laporan tentang kerusakan di Gereja Keluarga Kudus dan korban jiwa di lokasi. Kejadian ini sedang ditinjau lebih lanjut,” ungkap pernyataan resmi IDF. Mereka juga menyebutkan bahwa IDF “melakukan segala upaya untuk meminimalkan korban sipil dan kerusakan bangunan sipil, termasuk tempat ibadah”.
Namun bagi banyak pihak, pernyataan ini dianggap tak cukup. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni secara tegas mengecam serangan tersebut. “Serangan terhadap penduduk sipil yang terus berlangsung selama berbulan-bulan tidak dapat diterima. Tidak ada tindakan militer yang dapat membenarkan kekejaman seperti ini,” tegasnya dalam pernyataan resmi.
Sementara itu, Vatikan belum memberikan komentar resmi terkait serangan terhadap gereja yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi itu.
Perang antara Israel dan Hamas yang pecah sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 58.000 warga Palestina, menurut data otoritas kesehatan Gaza. Tak hanya nyawa melayang, rakyat Gaza juga menghadapi kelaparan, keterbatasan bantuan medis, dan kehancuran total terhadap infrastruktur sipil.
Kini, dunia kembali bertanya: sampai kapan darah harus terus mengalir sebelum perdamaian benar-benar datang? Dan berapa banyak lagi tempat suci yang harus hancur sebelum dunia membuka mata dan bertindak?
—
Update terus berita konflik Gaza hanya di kanal ini.






