
METRO NTT – Gunung Lewotobi Laki-laki kembali menunjukkan amarahnya. Pada Selasa malam, 8 Juli 2025, pukul 22.21 WITA, gunung berapi aktif yang terletak di Kabupaten Flores Timur ini kembali erupsi dan menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi kurang lebih 2.000 meter dari puncak.
Letusan malam itu menggetarkan warga yang berada di sekitar wilayah terdampak. Langit yang sebelumnya gelap pekat, seketika berubah menjadi kelabu dengan kilatan cahaya dari semburan material vulkanik. Suara gemuruh terdengar jelas hingga ke desa-desa terdekat, membuat warga terjaga dalam kekhawatiran.
Petugas Pos Pemantauan Gunung Lewotobi mencatat letusan ini sebagai salah satu aktivitas yang cukup signifikan, meski kolom abu tidak setinggi erupsi sebelumnya yang mencapai lebih dari 13.000 meter. Namun, tingginya mencapai 2.000 meter tetap menjadi peringatan keras bahwa aktivitas vulkanik gunung ini masih jauh dari kata aman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kolom abu teramati berwarna kelabu tebal dengan intensitas sedang hingga kuat, dan terbawa angin ke arah barat daya. Meski belum ada laporan korban atau kerusakan besar, masyarakat diimbau tetap waspada dan tidak beraktivitas dalam radius 3-5 kilometer dari kawah aktif.
Suasana malam berubah menjadi penuh ketegangan, terutama bagi warga Desa Hokeng, Klatanlo, hingga Dulipali yang beberapa hari sebelumnya sempat merasakan hujan abu. Beberapa warga bahkan sudah bersiap mengungsi bila aktivitas terus meningkat.
Pihak BPBD Flores Timur dan PVMBG terus memantau perkembangan dan memperbarui status secara berkala. Masker, air bersih, dan logistik mulai disiapkan di posko-posko siaga bencana.
Erupsi malam ini mengingatkan semua pihak bahwa Gunung Lewotobi masih menyimpan potensi bahaya besar. Masyarakat diminta tetap tenang, namun siaga, karena alam bisa berubah dalam sekejap.
“Kami harap warga tidak panik, tetapi tetap mengikuti instruksi resmi dan menjauhi zona merah,” ujar salah satu petugas dari PVMBG.
Lewotobi, gunung kembar yang menyimpan sejarah letusan panjang ini, kembali menegaskan bahwa ia belum tertidur. Dan malam ini, ia kembali bicara—dengan suara yang tak bisa diabaikan.








