METRO NTT – Langit di wilayah timur Pulau Flores mendadak muram pada Senin siang, 7 Juli 2025. Tepat pukul 11.05 WITA, Gunung Lewotobi Laki-laki kembali menunjukkan amarahnya. Letusan besar mengguncang dan menggetarkan tanah, mengirimkan kolom abu pekat menjulang hingga ke ketinggian luar biasa: 18.000 meter ke udara!
Letusan kali ini bukan hanya yang terbesar dalam sebulan terakhir, tapi juga tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang tahun 2025. Sebagai pembanding, letusan 17 Juni lalu “hanya” mencapai 11.000 meter. Kini, gunung itu seperti hendak menembus langit.
Visual kolom abu terekam sangat jelas, bahkan dapat disaksikan dari Kota Larantuka—sebuah wilayah yang selama ini dikenal cukup aman dari semburan material vulkanik Gunung Lewotobi. Warga yang menyaksikan peristiwa ini dari kejauhan sempat panik dan berhamburan keluar rumah, beberapa bahkan mengira terjadi gempa besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari jauh kelihatan seperti jamur raksasa di langit. Hitam kelabu, menakutkan!” ungkap Maria, warga Desa Hokeng yang tinggal sekitar 20 kilometer dari puncak gunung.
Gunung Lewotobi Laki-laki terletak di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasinya berada pada koordinat -8.5389° LU dan 122.7682° BT, dengan ketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut. Gunung ini dikenal sebagai salah satu dari dua kembarannya: Lewotobi Laki-laki dan Lewotobi Perempuan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengonfirmasi kejadian ini sebagai letusan dengan tingkat ancaman tinggi. Warga diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius berbahaya yang telah ditetapkan. “Tetap tenang, namun tingkatkan kewaspadaan. Ikuti arahan resmi dan jangan percaya informasi yang belum terverifikasi,” imbau PVMBG dalam rilis resminya.
Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa. Namun, pihak berwenang terus memantau kondisi dan menyiapkan langkah-langkah evakuasi jika aktivitas vulkanik meningkat.
Apakah ini pertanda bahwa aktivitas Lewotobi Laki-laki memasuki fase baru yang lebih berbahaya? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti—warga Flores Timur kini hidup dalam bayang-bayang sang raksasa yang baru saja terbangun. ***






