METRO NTT — Skandal perselingkuhan yang mengguncang Sumatera akhirnya terkuak dalam sebuah penggerebekan dramatis di sebuah vila yang tenang di kawasan Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Momen ini terekam dalam sebuah video yang kini viral di media sosial, memancing gelombang kemarahan dan rasa malu dari berbagai pihak.
Sabtu malam, 5 Juli 2025, menjadi malam yang tak akan dilupakan bagi seorang prajurit TNI aktif yang bertugas di Sumatera Selatan. Didorong oleh kecurigaan terhadap gelagat sang istri, ia memutuskan membuntuti perempuan yang selama ini ia panggil istri—berinisial F, seorang pegawai bank milik negara.
Naluri tajamnya tidak salah. Di sebuah penginapan yang dikenal dengan nama Villa Hijau, sang prajurit mendapati fakta pahit: istrinya tengah berduaan dengan seorang pria di kamar. Dan bukan sembarang pria—laki-laki itu adalah Brigpol J, seorang polisi aktif yang berdinas di Polres Lubuklinggau, Sumatera Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanpa ragu, sang suami bersama beberapa rekannya langsung menggerebek kamar. Pintu terbuka. Brigpol J berdiri—sudah berpakaian lengkap. Namun di balik tubuhnya, sang istri sah terlihat masih berupaya menutupi tubuhnya yang telanjang. Bukti perselingkuhan itu terekam jelas dalam video yang langsung menyebar bak api di tengah hutan kering.
Dua Institusi Ternoda: TNI dan Polri Terlibat Skandal
Fakta ini menjadi pil pahit bagi dua institusi negara: TNI dan Polri. Bukan hanya karena skandal tersebut melibatkan aparat berseragam, tapi juga karena masing-masing pelaku diketahui sudah menikah secara sah.
Ironisnya, istri dari Brigpol J juga berprofesi sebagai pegawai di bank milik negara—sama seperti F. Dengan kata lain, perselingkuhan ini tidak hanya menghancurkan dua rumah tangga, tetapi juga menyeret reputasi lembaga keuangan negara.
“Memang lokus kejadian di wilayah kami, tapi penanganan diserahkan ke Polres Lubuklinggau,” ujar AKP Sinar Simanjuntak, Kasi Humas Polres Rejang Lebong.
Ia menegaskan, pemeriksaan awal sudah dilakukan oleh pihaknya sebelum melimpahkan kasus ini ke Polres Lubuklinggau, tempat Brigpol J bertugas.
Proses Internal dan Pemecatan Mengintai
Kapolres Lubuklinggau, AKBP Adithia Bagus Junadi, angkat bicara. Ia tidak menutupi fakta bahwa Brigpol J adalah bawahannya. Bahkan, ia dengan tegas menyebut bahwa sang oknum sudah dinonaktifkan dari jabatannya dan tengah menjalani pemeriksaan internal.
“Sudah kita proses dan nonaktifkan. Proses pelanggaran kode etik masih berjalan,” kata AKBP Adithia.
Kapolres juga mengingatkan seluruh personelnya untuk tidak terlibat dalam tindakan yang mencoreng institusi. Ia menekankan bahwa menjaga integritas dan moralitas adalah harga mati bagi setiap anggota Polri.
Jejak Skandal: Dari Rasa Curiga Hingga Bukti Telanjang
Skandal ini mencuat berkat insting tajam sang prajurit TNI yang merasa ada perubahan dalam sikap istrinya. Ia tak tinggal diam. Dengan cermat, ia mengikuti langkah istrinya yang ternyata menuju ke sebuah vila bersama pria lain.
Dalam sekejap, kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun hancur berkeping-keping. Ia sendiri yang menyaksikan pengkhianatan itu, dengan mata kepala sendiri.
Video yang beredar menunjukkan betapa paniknya F saat digerebek. Ia terlihat kalang kabut mengenakan pakaian, sementara Brigpol J berusaha menenangkan situasi. Namun semuanya sudah terlambat.
Dugaan Perzinaan dan Sanksi Ganda Menanti
Meski pihak kepolisian masih merahasiakan rincian hukum, publik mendesak agar kasus ini tidak berhenti di proses etik semata. Banyak warganet menilai bahwa tindakan tersebut dapat masuk dalam kategori perzinaan sebagaimana diatur dalam KUHP baru yang mulai berlaku.
Selain itu, keterlibatan seorang istri anggota TNI membuat kasus ini berlapis. Dalam tradisi militer, tindakan semacam ini bukan hanya dianggap pelanggaran moral, tetapi juga penghinaan terhadap kehormatan institusi.
Penutup: Ketika Seragam Tak Lagi Sakral
Skandal Villa Hijau menjadi bukti bahwa seragam, betapapun dihormati, tak menjamin kesetiaan di baliknya. Dalam sekejap, dua keluarga hancur, dua institusi tercoreng, dan dua individu harus menghadapi konsekuensi berat dari tindakan sesaat.
Kini publik hanya menunggu: apakah hukum akan benar-benar ditegakkan? Ataukah ini akan berakhir menjadi satu dari sekian banyak skandal yang menguap begitu saja? **






