METRO NTT – Warga Desa Oinlasi, Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), digegerkan dengan skandal asmara memalukan yang menyeret nama seorang kepala desa aktif. Skandal ini mencuat setelah Ayub Missa, warga RT/RW 002/001 Dusun A, melaporkan Kades Noebana, Noh Ninef, ke Polsek Ki’e karena diduga telah menghamili istrinya yang masih sah, lalu meminangnya secara sembunyi-sembunyi di malam hari.
Laporan resmi Ayub teregister dengan Nomor: LP/B/27/V/2025/SPKT/POLSEK KI’E/POLRES TTS/POLDA NTT, yang menyebutkan bahwa peminangan dilakukan pada Kamis malam, 3 April 2025, pukul 22.00 WITA. Ironisnya, saat itu Ayub tidak berada di rumah. Semua dilakukan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan Ayub maupun keluarganya.
“Benar telah dihamili dan dipinang oleh Kades Noebana tanpa saya ketahui. Saat itu saya tidak ada di rumah. Semua dilakukan secara sembunyi dan tertutup,” ungkap Ayub dengan nada getir kepada wartawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ayub, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir dump truk di Kecamatan Toianas, mengaku hatinya hancur. Pasalnya, sang istri, Nonce Solle—yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun III Huetnana di Desa Anin, Kecamatan Amanatun Selatan—masih berstatus istri sah dan telah memiliki lima orang anak bersamanya.
Yang lebih menyayat hati, Ayub menyebut bahwa sang istri tega mengusir dirinya dari rumah, padahal ia baru saja pulang membawa uang dan beras untuk kebutuhan rumah tangga.
“Saya baru pulang kerja, bawa uang dan beras untuk anak-anak, eh dia malah usir saya. Disaksikan sendiri oleh mertuaku,” jelas Ayub.
Peminangan Secepat Kilat, Seperti Pencuri di Malam Hari
Saudari korban, Rince Missa, membenarkan adanya peminangan kilat tersebut.
“Mereka datang diam-diam seperti pencuri. Kami baru tahu setelah peminangan selesai dan istri korban dibawa pergi,” ujar Rince penuh geram.
Tak hanya kecewa, Rince juga mendesak agar Pemkab TTS, terutama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), memberi sanksi tegas kepada Kades Noebana karena mencoreng moral dan wibawa sebagai pejabat publik.
Kades dan Ibu Kadus Mangkir dari Pemanggilan Polisi
Proses hukum pun mulai bergulir. Korban, saksi, dan keluarga telah diperiksa oleh penyidik Polsek Ki’e. Namun, hingga kini, kedua terlapor yakni Kades Noh Ninef dan Nonce Solle sudah dua kali dipanggil secara resmi oleh pihak kepolisian, namun keduanya tidak memenuhi panggilan.
“Kasus ini sedang kami gelar. Masih ada kekurangan dalam berkas. Kami menunggu Kanit Res untuk melengkapi, lalu akan diserahkan ke Polres TTS,” jelas Kapolsek Ki’e, IPDA Fais Alang, saat dikonfirmasi.
Kepala Desa Anin: “Saya Kaget, Dia Tidak Masuk Kantor Sejak Mei!”
Sementara itu, Kepala Desa Anin, Nahason Banunaek, membenarkan bahwa Nonce Solle memang merupakan Kepala Dusun di wilayahnya. Ia mengatakan bahwa sejak bulan Mei 2025, Nonce tidak pernah lagi melaksanakan tugasnya di kantor.
“Sudah dua kali kami layangkan surat panggilan, namun tidak ada respons. Secara aturan, jika panggilan ketiga juga diabaikan, maka kami akan proses sesuai regulasi,” tegas Nahason.
Pemerintah Desa Anin juga menyatakan akan segera mengirim surat resmi ke Dinas PMD Kabupaten TTS untuk melaporkan pelanggaran disiplin dan dugaan asusila tersebut.
Skandal Ini Terungkap dari Emosi Saudara Sendiri
Kisah asmara terlarang ini mulai terkuak setelah saudara perempuan Nonce—ipar dari Ayub—mengetahui hubungan gelap tersebut. Menurut Ayub, iparnya bahkan sampai memukul Nonce karena tidak terima saudarinya menjalin hubungan dengan pria lain, sementara suaminya masih hidup dan menafkahi anak-anak.
“Dia bilang: ‘Masih ada suamimu hidup, kenapa kamu begitu?’ Saya tahu dari situ awalnya,” tutur Ayub menirukan amarah iparnya.
Kini, Ayub hanya bisa berharap pada keadilan hukum dan sanksi dari Pemkab TTS. Ia berharap, aparat kepolisian dan pemerintah tidak tinggal diam melihat moral pejabat yang rusak seperti ini.
“Saya hanya ingin keadilan. Ini bukan soal cemburu, ini soal harga diri, anak-anak kami, dan moral pemimpin desa,” pungkasnya.
Pantauan media menyebutkan bahwa hingga kini keberadaan Nonce Solle tidak diketahui. Ia menghilang setelah kasus ini mencuat. Dugaan perselingkuhan, kehamilan di luar nikah, hingga peminangan malam hari menjadi catatan hitam dalam perjalanan karier Kades Noebana dan Nonce Solle sebagai aparat desa.
Skandal ini pun mencoreng nama baik pemerintahan desa yang seharusnya menjadi panutan masyarakat. Masyarakat kini menunggu: akankah hukum dan aturan pemerintahan benar-benar ditegakkan, atau justru tunduk pada kekuasaan dan relasi jabatan?
Jika kamu ingin versi cetak koran, video narasi, atau slide presentasi dari berita ini, aku bisa bantu buatkan. Mau lanjut ke mana?






