METRO NTT – Luka dan trauma masih membekas di tubuh serta batin Intan, perempuan muda asal Loli, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menjadi korban penyiksaan oleh majikannya di Batam. Kini, ketika luka belum kering, pelaku justru datang membawa permohonan damai. Tapi, warga NTT sudah sepakat: tidak ada pintu maaf untuk kekerasan terhadap anak daerah!
Intan (20), seorang asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di rumah mewah di kawasan Sukajadi, Batam, ditemukan dalam kondisi babak belur. Wajahnya lebam, tubuhnya penuh luka. Pelakunya bukan orang asing: sang majikan sendiri, Roslina, yang selama ini menyebut dirinya sebagai “Ibu Ros”, serta satu ART lain bernama Merlin yang diduga ikut menyiksa Intan atas perintah sang majikan.
Minta Damai Setelah Menyiksa
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasus kekerasan ini menyita perhatian publik luas, terutama warga asal NTT di Batam dan kampung halaman korban di Pulau Sumba. Namun di tengah perjuangan hukum yang sedang berjalan, muncul kabar bahwa pihak pelaku justru meminta kasus ini diselesaikan secara damai.
Permintaan damai itu datang melalui berbagai jalur—dari kuasa hukum pelaku hingga orang-orang yang diutus khusus untuk membujuk korban dan keluarganya. Bahkan mereka menawarkan uang ganti rugi biaya pengobatan.
Namun, respons dari pihak korban sangat jelas dan tegas: tidak ada maaf untuk kejahatan yang begitu keji.
“Ini terlalu mudah. Mereka datang minta damai setelah menyiksa anak kami. Saya tegaskan, tidak ada pintu perdamaian,” ujar Kornelis Boli Balawanga, kuasa hukum Intan sekaligus tokoh hukum Paguyuban Keluarga NTT di Batam.
Dibela Komunitas Flobamora
Penolakan terhadap perdamaian tak hanya datang dari Intan dan keluarganya di Sumba, tetapi juga dari seluruh jaringan warga NTT di Batam. Solidaritas yang kuat pun terlihat dari gerak cepat komunitas Flobamora Batam.
Flobamora Batam pertama kali mendapat informasi pada Minggu (22/6/2025) bahwa ada seorang anak Sumba yang diduga menjadi korban penyiksaan di sebuah rumah di Blok 10, Sukajadi, Batam. Tanpa banyak tanya, mereka langsung mendatangi rumah tersebut dan menemukan Intan dalam kondisi lemah dan penuh luka.
“Majikan laki-laki kabur saat kami datang. Tapi kami berhasil bertemu dengan Intan. Kami saksikan sendiri bagaimana luka-luka itu melekat di tubuhnya,” ujar salah satu anggota tim Flobamora.
Diproses Hukum, Tak Ada Ampun
Tak lama setelah kejadian itu terungkap, Ketua Keluarga Sumba di Batam, Yulius, langsung berkoordinasi dengan aparat kepolisian. Korban dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis dan visum.
“Majikan sudah diamankan polisi, dan proses hukum sedang berjalan. Kita tidak akan tinggal diam,” tegas Kornelis.
Ia juga menegaskan, seluruh warga NTT di Batam mendukung agar proses hukum berjalan secara transparan dan adil. “Kami akan kawal hingga pelaku dijatuhi hukuman setimpal.”
Korban Masih Trauma
Hingga berita ini diturunkan, Intan masih menjalani pemulihan di shelter milik Romo Paschal. Ia mulai pulih secara fisik, namun trauma psikologis masih membekas. Tim medis dan pendamping psikologis terus memantau kondisinya.
Sementara itu, Roslina dan Merlin telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum.
“Jangan Lagi Ada Intan-Intan Lain”
Komunitas NTT di Batam bersatu dalam satu suara: hentikan kekerasan terhadap pekerja rumah tangga, terutama mereka yang berasal dari daerah-daerah yang rentan secara sosial dan ekonomi seperti NTT.
“Kita semua sangat terpukul. Tapi biarlah ini menjadi momentum untuk melindungi anak-anak kita di perantauan. Jangan lagi ada Intan-Intan lain yang disiksa dan diperlakukan seperti binatang,” kata Kornelis penuh emosi.
Dukungan pun terus mengalir, dari warga NTT di berbagai kota hingga kampung halaman di Loli, Sumba Barat.
“Anak ini tidak sendiri. Dia punya keluarga besar: Flobamora!” tegas salah satu tokoh masyarakat NTT di Batam.
NTT Menolak Diam. NTT Menolak Damai dengan Kekerasan. Keadilan untuk Intan adalah harga mati!






