CUACA SEAKAN MEMAKSAKU BERUMAH TANGGA
Hujan di Ruteng bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia seperti puisi tanpa suara, yang menari-nari di atas atap seng, membangunkan kenangan, dan menggoda hati untuk diam sebentar lalu bertanya: “Sampai kapan kau akan sendiri?”
Aku, Rati, 28 tahun, jurnalis lepas yang lebih sering menulis tentang cinta orang lain daripada mengizinkan cinta mengetuk pintu hatiku sendiri. Sudah enam tahun aku kembali dari Jakarta, menetap di Ruteng, tinggal sendiri di rumah peninggalan nenek, di lereng utara Golo Curu. Aku bilang ke semua orang, aku pulang karena rindu udara sejuk dan langit yang rendah. Tapi sebenarnya, aku pulang karena patah hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lalu datanglah Epak.
Nama lengkapnya Efraim Paksi, tapi semua orang di Ruteng memanggilnya Epak. Dosen muda di UNIKA ST. Paulus Ruteng, lulusan luar negeri, wajahnya seperti gabungan antara dinginnya cuaca Ruteng dan hangatnya kopi Manggarai. Aku mengenalnya saat liputan seminar pendidikan di aula kampus. Dia menyapaku dengan tatapan yang, entah kenapa, membuat jantungku melambat, seolah semesta ingin aku dengar sesuatu lebih jelas malam itu.
“Aku pernah baca tulisanmu di majalah Geotimes. Tentang sekolah di perbukitan Manggarai. Itu menyentuh,” katanya.
Aku hanya mengangguk, mencoba menyembunyikan rona merah di pipi yang tak biasa kutunjukkan di depan publik.
Sejak itu, kami mulai bertemu. Kadang tanpa sengaja, kadang dengan sengaja diskenariokan oleh kopi dan pesan singkat larut malam.
November dan Lonceng Kecil
Bulan November di Ruteng adalah tentang mendung yang tak pernah selesai. Tentang kabut pagi yang membuat dunia seperti puisi yang belum selesai ditulis. Aku suka bulan ini. Dan sejak ada Epak, bulan November punya makna lain: hangat di balik dingin.
Suatu sore, aku mengajak Epak ke rumah. Awalnya cuma alasan klise: “Ada buku tentang pendidikan yang mau kutunjukkan.” Tapi sebenarnya, aku ingin melihat bagaimana ia duduk di kursi goyang tua milik nenekku, meminum kopi dari gelas yang biasa kugunakan saat hujan deras, dan diam di bawah langit-langit rumah yang sudah banyak kisah tertinggal.
“Rumahmu seperti rumah dalam film,” katanya.
“Film horor atau film cinta?”
“Film tentang seseorang yang belum tahu bahwa rumah ini akan jadi tempat peristirahatan hatinya.”
Aku terdiam. Bukan karena kalimatnya yang puitis, tapi karena aku takut aku mulai percaya.
Hujan Terus-Terusan
Desember datang membawa banjir kenangan dan genangan perasaan. Hujan nyaris tak berhenti. Aku mulai malas keluar rumah, lebih suka menonton tetesan air dari balik jendela, sambil memutar lagu-lagu lawas dari laptop.
Epak datang lebih sering sekarang. Membawakan makanan, membenarkan atap bocor, bahkan menyapu halaman saat aku masih tidur siang.
“Kenapa kamu baik sekali, Pak?” tanyaku suatu malam saat listrik padam, dan kami hanya ditemani cahaya lilin.
Dia tidak menjawab langsung. Ia memandangi langit-langit, lalu menatapku dengan mata yang jujur.
“Karena kamu adalah hujan yang kutunggu bertahun-tahun. Aku tak ingin mendung lewat tanpa aku genggam.”
Badai dan Ketakutan
Tapi cinta tidak pernah semulus kabut pagi. Selalu ada badai.
Suatu malam, kami bertengkar. Aku merasa terlalu cepat. Terlalu banyak harapan yang tak siap aku genggam. Aku merasa ia ingin menetap, sementara aku masih ingin terbang, walau sayapku sudah lelah.
“Jangan paksa aku, Pak. Aku belum siap,” kataku dengan suara tinggi.
Epak menunduk. Ia mengambil jaketnya, lalu sebelum keluar rumah, ia berkata,
“Aku tidak memaksamu. Tapi jangan biarkan cuaca mengajarimu bahwa kamu tak bisa sendiri selamanya. Ruteng bisa dingin sekali, Rati.”
Setelah ia pergi, rumah jadi lebih sunyi dari biasanya. Bahkan suara hujan seperti hilang ditelan bayanganku sendiri.
Pagi Setelah Tiga Hari Hujan
Aku tak menyangka akan merindukan langkah kakinya di teras. Rindukan caranya menyesap kopi sambil membaca koran kampus. Tapi yang paling aku rindukan adalah ketenangan yang ia bawa, tanpa pernah memaksa.
Tiga hari setelah pertengkaran itu, pagi datang dengan malu-malu. Matahari memantul dari dedaunan basah. Aku duduk di kursi goyang sambil menatap pintu. Lalu ada ketukan.
Epak. Dengan mata sembab, dan senyum kecil.
“Rumah ini terlalu dingin tanpaku, ya?” katanya sambil tertawa kecil.
Aku mengangguk, lalu berdiri dan memeluknya.
“Maaf,” bisikku.
“Cuaca ini terlalu romantis untuk kita tetap saling menjauh, Rat.”
Satu Sore di Gereja Katedral
Kami duduk di bangku kayu, jauh di belakang. Di Gereja Katedral Ruteng yang tua dan khidmat. Lonceng berbunyi tiga kali. Langit mendung, tapi cahaya sore menembus kaca patri membentuk pola yang indah di lantai.
“Aku ingin menikah, Rat,” bisiknya.
“Karena cinta?”
“Karena kamu adalah rumah.”
Dan Hujan Tak Lagi Sendiri
Hari pernikahan kami disambut gerimis kecil. Tapi semua orang bilang itu pertanda baik. Bahwa berkah turun dari langit.
Aku mengenakan kebaya putih sederhana. Epak memakai kemeja putih dan selendang tenun ikat dari Aimere. Kami mengikat janji di depan altar, dengan mata saling menguatkan.
Aku tak pernah menyangka, hujan yang dulu sering membuatku merasa kesepian, kini jadi simfoni yang mengantar hari-hariku dengan cinta.
Penutup: Cuaca Seakan Memaksaku Berumah Tangga
Di Ruteng, hujan bukan hanya tentang langit yang basah. Tapi tentang bagaimana seseorang menyentuh hatimu dengan sabar, tanpa tergesa, seperti rintik yang merayap pelan di kaca jendela.
Dan cinta tak selalu datang dengan teriakan. Kadang, ia datang bersama secangkir kopi, buku yang dibuka perlahan, dan seseorang yang tahu bahwa kamu takut mencintai, tapi tetap bertahan.
Kini, setiap kali mendengar suara hujan di atap rumah kami, aku tahu: cuaca tidak pernah salah. Ia cuma ingin aku berhenti berlari, dan mulai membangun rumah—bersama seseorang yang pantas kusebut rumah.
Karena mungkin benar, cuaca seakan memaksaku berumah tangga. Dan aku bersyukur menyerah.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat, itu terjadi hanya kebetulan.






