METRO NTT — Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Kota kecil yang biasanya damai dan penuh pesona laut biru itu mendadak gempar karena sebuah kisah cinta yang tak seharusnya terjadi.
Namanya Guntur Siregar, guru Bahasa Indonesia yang baru dua tahun pindah ke SMA Negeri Bahari. Ia pindah dari Makassar, berharap kehidupan yang lebih tenang setelah patah hati akibat tunangannya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di Labuan Bajo, ia menjadi guru idola. Tinggi, kulit sawo matang, rambut hitam acak-acakan yang selalu terlihat rapi tanpa perlu disisir, dan mata teduh yang bisa membuat siapa pun nyaman saat bicara dengannya.
Ia mengajar dengan semangat dan mampu membangkitkan semangat siswa-siswi yang selama ini menganggap Bahasa Indonesia sebagai pelajaran membosankan. Tapi dari semua muridnya, satu yang paling menonjol dan paling sering menyita perhatiannya: Maria Damaris, siswi kelas XII IPS 2.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Maria adalah gadis pemalu, anak seorang nelayan miskin dari Pulau Papagarang. Ia terkenal karena bakatnya menulis puisi dan cerita pendek. Tulisannya sering dimuat di mading sekolah, bahkan beberapa kali menjuarai lomba sastra pelajar tingkat kabupaten. Ia cantik dengan cara yang tidak biasa — bukan karena make up atau gaya rambut, tapi karena cara berpikirnya yang dewasa dan menyentuh.
Awalnya, semua hanya karena satu puisi.
Puisi Maria yang berjudul “Tuhan, Jangan Jadikan Aku Dewasa” menarik perhatian Pak Guntur. Ia memanggil Maria ke ruang guru untuk membahas tulisannya — dan sejak saat itu, pertemuan mereka menjadi rutin. Setiap minggu, mereka berdiskusi tentang puisi, sastra, hidup, dan luka masa lalu.
Maria mulai merasa nyaman, dan Guntur mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kekaguman pada siswinya. Ia mencoba menahan perasaannya, tapi seperti ombak Labuan Bajo yang tidak bisa ditahan oleh karang, cinta itu terus mendesak ke permukaan.
Hingga suatu sore, mereka bertemu di dermaga. Hanya untuk membacakan puisi yang mereka tulis bersama. Tapi seseorang diam-diam mengambil foto mereka. Foto itu menyebar cepat di grup WhatsApp wali murid, lalu merambat ke media sosial.
“Guru Ganteng SMA Bahari Mesra dengan Siswi Sendiri! Ini Buktinya!”
Judul-judul seperti itu mulai bermunculan di Facebook dan Instagram. Dunia sekolah kacau. Kepala sekolah memanggil Pak Guntur dan memberinya dua pilihan: mengundurkan diri secara diam-diam atau menghadapi sanksi yang akan menghancurkan kariernya. Demi menjaga martabat sekolah — dan harga diri Maria — ia memilih pergi.
Maria dipanggil BP. Ibunya, Mama Lela, datang sambil menangis, marah, dan memaksa Maria bersumpah di depan gereja bahwa hubungannya dengan Pak Guntur tidak melampaui batas. Padahal, dalam hatinya, Maria sudah jatuh cinta, dan itu bukan cinta remaja biasa. Itu cinta yang membuatnya rela kehilangan segalanya.
Beberapa hari sebelum Pak Guntur meninggalkan kota, ia memberikan Maria sebuah buku. Buku puisi yang mereka tulis bersama. Di halaman terakhir, ada satu surat tulis tangan:
“Maria, kalau saja aku lahir sepuluh tahun lebih muda, atau kalau saja kamu bukan muridku, aku akan memperjuangkanmu sampai dunia menyerah. Tapi sekarang, aku hanya bisa pergi agar kamu bisa tumbuh tanpa beban namaku. Jangan menangis. Tapi kalau kamu menangis, tulislah puisimu dari air mata itu.”
Seminggu setelah kepergiannya, kabar buruk datang. Pak Guntur ditemukan meninggal dunia di kos-kosan kecilnya di Maumere. Gantung diri, menurut polisi. Di meja kecil di samping tempat tidurnya, hanya ada satu foto: Maria sedang membaca puisi di panggung sekolah, dan secarik kertas bertuliskan:
“Bahkan puisi tidak bisa menyelamatkanku dari kehilangan.”
Maria tidak menghadiri pemakaman itu. Tapi sejak saat itu, setiap tanggal kematian Pak Guntur, seseorang selalu meninggalkan bunga putih dan selembar puisi baru di dermaga tua tempat mereka pernah duduk berdua.
Epilog:
Lima tahun kemudian, nama Maria Damaris muncul sebagai penulis muda yang karyanya diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Perancis. Bukunya berjudul: “Cinta yang Tidak Pernah Kita Akui” — dan di halaman persembahan, hanya tertulis:
“Untuk seorang guru yang mencintaiku dalam diam, dan mati karena cinta itu.”
Catatan: Tulisan ini hanyalah cerita fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu terjadi hanya secara kebetulan semata.






