METRO NTT — Puncak Waringin, Labuan Bajo, dikenal sebagai tempat paling romantis untuk menikmati matahari tenggelam. Angin laut dari arah utara menampar wajah lembut, aroma kopi robusta dari warung kaki lima menguap bersama debur rindu yang terpendam. Tapi sore itu, bukan hanya matahari yang tenggelam — ada martabat yang perlahan karam.
Di sudut taman, di balik gazebo yang tertutup pohon bugenvil merah muda, seorang pria duduk bersama perempuan berkerudung coklat muda. Mereka tak sadar bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan — tajam dan penuh curiga. Namanya Karman, tukang parkir senior di Puncak Waringin, yang diam-diam punya pekerjaan sampingan: mengintip orang pacaran.
“Beta sudah lihat macam-macam di sini,” gumam Karman sambil menyulut rokok. Tapi hari itu, yang ia lihat jauh lebih panas dari perdebatan politik di DPRD.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Laki-laki itu adalah Pak Jefri Ngongo, anggota dewan dua periode, dikenal luas karena pidato-pidatonya tentang etika, keluarga, dan bahaya generasi muda yang ‘kebablasan’. Ia sering muncul di baliho bersama slogan-slogan seperti “Keluarga Adalah Pilar Bangsa” dan “Hidup Jujur, Hidup Bermakna.”
Namun, di hadapan Karman sore itu, Pak Jefri justru duduk dengan Yunita Fitri, Bendahara Partai sekaligus janda muda beranak satu, yang baru setahun terakhir naik daun di lingkaran kekuasaan politik daerah. Mereka duduk sangat dekat, tertawa pelan, tangan saling menyentuh sebentar-sebentar seperti pasangan muda yang malu-malu tapi mau.
“Kalau ini bukan urusan cinta, beta potong kuping!” kata Karman dengan suara parau, lalu mengambil ponselnya.
Klik.
Satu foto.
Klik.
Dua foto.
Klik.
Satu video berdurasi 17 detik — cukup untuk mengguncang satu DPD partai.
Karman tidak langsung menyebar bukti. Ia memilih mengamati lebih jauh. Ternyata, pertemuan itu berulang setiap hari Rabu, selalu pukul 17.10 WITA. Mereka datang dengan mobil berbeda, turun bergiliran, lalu duduk di tempat yang sama, membawa secangkir kopi dan senyum yang sama manis.
Minggu ketiga, Pak Jefri membawa bunga kecil. Minggu keempat, Yunita datang lebih dulu, menulis sesuatu di kertas, dan menyelipkannya ke dalam buku kecil berwarna hijau toska. Mereka berpisah cepat, tapi ada sesuatu yang tertinggal di udara: rahasia yang sebentar lagi akan meledak.
Segalanya berubah ketika Karman — karena kecewa tak dapat THR dari partai seperti tahun-tahun sebelumnya — memutuskan mengirim video itu ke grup WhatsApp wartawan lokal. “Beta cuma mau mereka tahu, siapa yang omong etika paling keras, dia yang paling cepat lupa,” tulisnya.
Video itu menyebar dalam waktu tiga jam ke semua pengurus DPD, kader muda, bahkan istri Pak Jefri.
Grup internal meledak.
Yunita tidak bisa dihubungi.
Pak Jefri menghapus Instagram-nya.
Dan publik pun mulai bertanya: “Ini konsolidasi atau konspirasi cinta?”
Dalam konferensi pers mendadak, Pak Jefri muncul dengan wajah pucat tapi tetap gagah. Ia mengenakan kemeja putih dan dasi biru — khas gaya politisi yang sedang menyelamatkan diri. “Pertemuan itu murni urusan partai. Tidak ada hubungan pribadi,” katanya dengan suara bergetar.
Sementara Yunita, yang awalnya bungkam, mengunggah foto langit senja Puncak Waringin dengan caption:
“Kadang kita bertemu bukan untuk ditanya siapa, tapi untuk saling diam di waktu yang salah.” 💔
Publik menilai itu bukan klarifikasi, tapi konfirmasi.
Karman kini menjadi bintang. Wartawan lokal berebut wawancara dengannya. Ia muncul di podcast politik, menjadi narasumber dadakan di radio daerah, dan bahkan mendapat julukan “Mata Tuhan dari Puncak Waringin.”
Ketika ditanya kenapa ia melakukan semua ini, jawabannya sederhana:
“Karena beta sudah bosan lihat orang pakai kekuasaan buat sembunyi cinta kotor. Kalau mau pacaran, jangan tipu publik. Kalau mau jujur, jangan cuma di mikrofon!”
Kini, Puncak Waringin tetap indah, tetapi tidak sepolos dulu. Gazebo tempat mereka biasa duduk ditutup untuk renovasi. Kamera CCTV diaktifkan kembali. Dan Pak Jefri? Ia disebut-sebut akan digantikan dalam bursa calon legislatif tahun depan.
Sementara cinta antara Pak Dewan dan Pengurus Partai itu, tak pernah benar-benar dikonfirmasi… tapi jejaknya masih tertulis di langit senja — dan di folder HP tukang parkir bernama Karman.
Catatan: Tulisan ini hanyalah cerita fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu terjadi hanya secara kebetulan semata.






