Haji Baso Soroti Penyalahgunaan Nama Pinisi Usai Kapal Tenggelam di Labuan Bajo

- Editor

Selasa, 30 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Haji Baso, seorang tokoh masyarakat Labuan Bajo yang telah lama menetap di Flores, Nusa Tenggara Timur

Haji Baso, seorang tokoh masyarakat Labuan Bajo yang telah lama menetap di Flores, Nusa Tenggara Timur

METRO NTT – Rentetan peristiwa kapal tenggelam di perairan Labuan Bajo kembali mencuatkan polemik serius, tak hanya soal keselamatan pelayaran, tetapi juga soal penyalahgunaan nama kapal “pinisi” yang kini semakin meluas.

Nama “pinisi”, yang seharusnya memiliki makna dan identitas yang jelas, kerap disematkan pada kapal-kapal wisata yang tidak memenuhi kriteria dasar sebuah pinisi. Salah satu suara kritis datang dari Haji Baso, seorang tokoh masyarakat Labuan Bajo yang telah lama menetap di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Menurut Haji Baso, penyebutan “pinisi” pada kapal yang mengalami kecelakaan, seperti yang terjadi pada Kapal Dewi Anjani yang tenggelam pada Senin (29/12/2025) di Dermaga Pink Labuan Bajo, adalah hal yang keliru dan berpotensi menyesatkan publik. Kapal yang karam di perairan sekitar Pelabuhan Marina Waterfront tersebut hingga berita ini diturunkan, belum diumumkan secara resmi penyebabnya, termasuk apakah ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, kecelakaan serupa juga terjadi pada KM Putri Sakinah di Selat Padar yang menewaskan seorang pelatih sepak bola asal Spanyol bersama tiga anaknya, mengguncang citra pariwisata bahari Labuan Bajo. Meski kedua kapal tersebut dilaporkan sebagai “pinisi” oleh beberapa media, Haji Baso menilai bahwa penamaan itu tidaklah tepat.

Baca Juga:  Kadis DLHK NTT Tinjau Pembangunan 69 Resort & Beach Club di Pulau Kelapa, Pastikan Izin Lingkungan Berproses

Pinisi Bukan Sekadar Nama Dagang

Haji Baso menegaskan, pinisi bukanlah sekadar label wisata atau alat pemasaran semata. Pinisi adalah kapal tradisional Nusantara yang memiliki filosofi dan standar yang sangat jelas. “Saya pribadi memiliki kapal, tetapi saya tidak pernah mengklaim kapal saya itu pinisi asli. Itu hanya bisa disebut semi pinisi,” ujar Haji Baso, yang juga pemilik Kapal Sipuliang.

Menurutnya, ukuran kapal bukanlah faktor utama dalam penamaan pinisi. “Kapal wisata mungkin besar, tapi itu tidak serta-merta menjadikannya pinisi. Ada ciri-ciri, karakter, dan sejarah panjang yang melekat pada penamaan pinisi,” tegasnya.

Ciri-ciri Pinisi yang Sering Diabaikan

Menurut Haji Baso, ciri paling mudah untuk mengenali kapal pinisi adalah adanya dua tiang layar utama dan tujuh helai layar. Ciri-ciri tersebut adalah warisan budaya pelaut Bugis-Makassar, khususnya dari Desa Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan. “Jika tidak memenuhi ciri tersebut, kapal itu belum tentu pinisi,” ujarnya.

Baca Juga:  Ketua DPRD Manggarai Barat: Tragedi KM Putri Sakinah Tampar Wajah Pariwisata Super Premium

Sebagai contoh, KM Putri Sakinah yang tenggelam beberapa waktu lalu hanya memiliki satu tiang layar, yang menurut Haji Baso, jelas tidak memenuhi kaidah tradisional pinisi. Pandangan ini, katanya, tidak hanya pendapat pribadinya, tetapi juga sejalan dengan pemahaman banyak pelaut tradisional dan pemerhati maritim.

Pinisi Sejati: Silolona, Legenda Maritim Nusantara

Haji Baso juga menyebutkan Silolona, sebuah kapal pinisi sejati yang memiliki sejarah panjang dan reputasi internasional. Kapal yang dikenal juga dengan nama Datuk Buar ini mampu berlayar lintas samudra, bahkan mendapat penghargaan dari UNESCO setelah melakukan pelayaran luar biasa dari Jakarta hingga Pankopir, Kanada. “Silolona itu adalah simbol peradaban maritim Nusantara,” ujar Haji Baso.

Risiko Penyalahgunaan Nama Pinisi

Haji Baso menyayangkan maraknya penggunaan nama pinisi pada kapal-kapal wisata yang berukuran kecil dan memiliki kemampuan pelayaran terbatas.

Penyalahgunaan nama ini, kata dia, tidak hanya keliru secara teknis dan historis, tetapi juga berbahaya bagi keselamatan pelayaran. “Ketika terjadi kecelakaan dan kapal tersebut disebut pinisi, nama pinisi ikut tercoreng,” katanya.

Ia juga menambahkan, penyalahgunaan nama pinisi dalam konteks kecelakaan kapal dapat memperburuk citra budaya maritim Indonesia yang kaya akan tradisi dan sejarah.

Baca Juga:  Jangan Hanya Awak Kapal, Polisi Diminta Bongkar Peran KSOP dalam Tragedi Tenggelamnya KM Putri Sakinah

Keselamatan Pelayaran Tak Bisa Ditawar

Selain itu, Haji Baso mengingatkan agar faktor cuaca selalu diperhitungkan dalam operasional kapal wisata. Cuaca buruk, menurutnya, adalah faktor krusial yang tak bisa diabaikan.

“Keselamatan adalah hukum tertinggi. Cuaca buruk harus dipertimbangkan sebelum berlayar, bukan demi ambisi atau sekadar label kapal,” tegasnya.

Haji Baso mengaku sendiri pernah merasakan kerasnya kondisi cuaca laut yang buruk, terutama saat salah satu kejadian kapal tenggelam terjadi di sekitar Labuan Bajo.

Menurutnya, dokumentasi yang ada menunjukkan bahwa cuaca harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap pelayaran.

Seruan untuk Ketegasan dan Edukasi Publik

Di akhir pernyataannya, Haji Baso menyerukan agar pemilik kapal, operator wisata, media, dan pihak berwenang lebih berhati-hati dalam penggunaan istilah pinisi.

“Pinisi bukan sekadar nama atau alat promosi. Ia adalah warisan budaya maritim Indonesia. Kalau istilah ini digunakan dengan sembarangan, apalagi dalam konteks musibah, yang dipertaruhkan bukan hanya akurasi informasi, tetapi juga kehormatan budaya dan keselamatan nyawa manusia,” pungkasnya.

Penulis : Yoflan Bagang

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Gubernur NTT Sambut CEO NIHI Sumba, Bahas Ekspansi Wisata Premium ke Rote
Ketua DPRD Manggarai Barat: Tragedi KM Putri Sakinah Tampar Wajah Pariwisata Super Premium
Kadin Manggarai Barat Nilai Tata Kelola KSOP Labuan Bajo Gagal, Desak Menhub Lakukan Pembersihan Total
KSOP Klaim Cuaca Aman, Agen Kapal Sebut Semua Lewat Sistem: Misteri SPB KM Putri Sakinah yang Tenggelam di Pulau Padar
Staycation Mewah dan Tiga Petualangan Eksotis Ala Meruorah, Healing Paling Menyenangkan
Prestasi Gemilang Dibalik Sosok General Manager Baru Hotel Meruorah Rudy Rudolf H Butar Butar
Kerja di 1.000 Industri Pariwisata Dalam & Luar Negeri
Meruorah Komodo Labuan Bajo Hadirkan Program “December Wonders & Magical Journey” Sambut Akhir Tahun

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 03:18

Gubernur NTT Sambut CEO NIHI Sumba, Bahas Ekspansi Wisata Premium ke Rote

Rabu, 7 Januari 2026 - 02:02

Ketua DPRD Manggarai Barat: Tragedi KM Putri Sakinah Tampar Wajah Pariwisata Super Premium

Rabu, 31 Desember 2025 - 03:03

Kadin Manggarai Barat Nilai Tata Kelola KSOP Labuan Bajo Gagal, Desak Menhub Lakukan Pembersihan Total

Selasa, 30 Desember 2025 - 10:26

Haji Baso Soroti Penyalahgunaan Nama Pinisi Usai Kapal Tenggelam di Labuan Bajo

Senin, 29 Desember 2025 - 15:58

KSOP Klaim Cuaca Aman, Agen Kapal Sebut Semua Lewat Sistem: Misteri SPB KM Putri Sakinah yang Tenggelam di Pulau Padar

Berita Terbaru