METRO NTT – Sebuah kisah tragis sekaligus mencengangkan terjadi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Seorang siswi SMP berinisial NA (14) menjadi korban penculikan setelah menolak cinta seorang pria lanjut usia yang masih tetangganya sendiri. Lebih mengejutkan, dalang dari aksi nekat ini adalah SR (60), seorang kakek yang mengaku jatuh hati pada korban.
Peristiwa memilukan itu terjadi saat korban pulang dari sekolah. Saat tengah mengendarai sepeda motor, ia dihentikan secara paksa oleh lima orang pelaku, dibekap, lalu diseret masuk ke dalam mobil. Warga yang sempat mendengar teriakan korban tak mampu menolong lantaran para pelaku membawa senjata tajam.
SR tak sendiri. Aksi penculikan itu dilakukan bersama empat orang lainnya yang semuanya adalah pensiunan ASN, yakni HJ (76), APR (56), RD (40), dan seorang wanita berinisial AD (55). Kelima pelaku pun kini harus berurusan dengan hukum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Alvin Aji Kurniawan, SR diketahui telah beberapa kali datang ke rumah orang tua korban, bahkan menyampaikan niat untuk menikahi siswi SMP itu.
> “Infonya begitu, sudah datang melamar. Pernah beberapa kali datang ke rumah orang tuanya dan memberi sesuatu juga,” ujar AKP Alvin saat dikonfirmasi, Selasa (15/7).
Namun, cinta SR bertepuk sebelah tangan. Penolakan dari pihak keluarga rupanya memicu amarah sekaligus obsesi yang membutakan logika. Ia pun merancang rencana penculikan dengan melibatkan sejumlah orang dekatnya.
Beruntung, polisi bertindak cepat. Setelah menerima laporan dari warga, aparat langsung melakukan pengejaran terhadap mobil pelaku. Tak lama, kelima pelaku berhasil dibekuk dan korban berhasil diselamatkan dalam kondisi trauma.
Kini, para pelaku dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Mereka terancam hukuman penjara antara 3 hingga 15 tahun.
Catatan Redaksi:
Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap anak-anak, terutama dalam lingkungan terdekat. Tak sedikit kasus kekerasan atau penculikan justru dilakukan oleh orang-orang yang dikenal korban.
Selain itu, perlu ada perhatian serius terhadap kondisi mental lansia yang mungkin mengalami delusi, obsesi, atau gangguan perilaku, terutama jika tak mendapatkan penanganan yang tepat dari keluarga maupun lingkungan sosial.
Mari bersama jaga anak-anak kita. Cinta bukan alasan untuk mencelakakan.






