
METRO NTT – Cinta bisa membutakan segalanya, bahkan akal sehat. Itulah yang terjadi di Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang. Dua pria dewasa, masing-masing Solikin alias Topeng (40) dan Mahfud (30), nekat saling bacok dengan celurit demi memperebutkan hati seorang janda berinisial S (42). Namun tragisnya, setelah keduanya bersimbah darah, sang janda justru tak memilih siapa-siapa.
Perkelahian ala laga satu lawan satu ini terjadi pada awal pekan dan sempat membuat geger warga setempat. Pertikaian dua supir truk ini tak hanya membuat mereka terluka, tapi juga menjadi bukti betapa cinta yang tak terbalas bisa berujung petaka.
Berbekal senjata tajam jenis celurit, keduanya saling serang di sebuah lokasi yang tak jauh dari rumah sang janda pujaan hati. Warga yang menyaksikan kejadian berdarah itu langsung melaporkan ke pihak kepolisian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolres Lumajang, AKBP M Arsal Sahban, menjelaskan bahwa kedua pria tersebut akhirnya sepakat berdamai usai menjalani mediasi bersama aparat. “Keduanya telah menyadari kesalahan mereka dan memilih jalur damai,” ujar Arsal dalam keterangan persnya, Selasa.
Menariknya, sang janda yang menjadi sumber konflik justru memilih menjauh dan tak berpihak pada salah satu dari mereka. “Tak satu pun dari dua pria itu yang dipilih,” imbuh Arsal.
Mengingat kondisi sosial keduanya—masih memiliki anak dan keluarga yang harus dinafkahi—pihak kepolisian memutuskan untuk menghentikan proses hukum. Proses damai ini ditempuh lewat pendekatan Restorative Justice, atau penyelesaian di luar jalur peradilan.
“Keduanya bukan hanya pelaku, tapi juga korban dalam kasus ini. Kami tidak ingin masalah ini merusak masa depan anak-anak mereka. Semoga kejadian ini jadi pelajaran dan tak terulang lagi, khususnya di Lumajang,” tegas Kapolres.
Kejadian ini menyisakan luka fisik dan batin. Namun yang paling menggelitik adalah kenyataan bahwa perjuangan berdarah-darah mereka sia-sia. Janda yang diperebutkan tak tergoda oleh pertarungan heroik mereka.
Apakah cinta benar-benar buta? Di Lumajang, jawabannya mungkin: iya, sampai berdarah-darah pun tak dipilih juga!








