METRO NTT – Di balik wajah cantik dan usia yang masih belia, Nur Afifah Balqis menyimpan kisah mengejutkan yang kini menjadi buah bibir seantero negeri. Di usia 24 tahun, politisi muda Partai Demokrat asal Balikpapan itu resmi menyandang gelar sebagai koruptor termuda di Indonesia, usai terlibat dalam kasus suap senilai Rp5,7 miliar.
Nama Afifah sebelumnya dikenal sebagai sosok muda berbakat di kancah politik lokal. Ia menjabat sebagai Bendahara Umum DPC Partai Demokrat Balikpapan, posisi strategis yang membuatnya disegani banyak kalangan. Bahkan, kedekatannya dengan Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Abdul Gafur Mas’ud, kerap menjadi perbincangan hangat, apalagi setelah foto mereka berdua berpose di depan mobil mewah BMW sempat viral di media sosial.
Namun gemerlap itu hanya sementara. Dalam sidang yang digelar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terungkap bahwa Afifah tidak hanya menjadi tangan kanan Abdul Gafur, tetapi juga turut membantu menampung uang haram dari berbagai proyek di lingkungan Pemkab PPU, mulai dari pengadaan barang dan jasa hingga perizinan tahun 2020–2022.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta mengejutkan lainnya, rekening dan ATM atas nama Afifah ternyata digunakan secara aktif oleh Abdul Gafur untuk menampung dan mengelola aliran dana suap. Peran aktif dan kesadarannya dalam memfasilitasi praktik korupsi membuat hakim menjatuhkan hukuman 4 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp300 juta kepada Afifah.
Kini, gadis muda yang dulu dipuja sebagai “bintang politik masa depan” itu harus menjalani hukuman di Lapas Perempuan Tenggarong, tempat yang menjadi saksi kejatuhannya dari panggung kekuasaan.
Kasus ini pun menjadi pengingat keras bagi publik, khususnya generasi muda, bahwa politik bukan hanya soal popularitas dan kemewahan, melainkan juga soal integritas dan tanggung jawab. Nur Afifah Balqis, yang dulu digadang-gadang sebagai harapan baru politik Balikpapan, kini tercatat sebagai contoh nyata bagaimana ambisi yang salah arah bisa membawa kehancuran.
Dari panggung politik ke balik jeruji, inilah potret kelam anak muda yang tergelincir oleh kuasa dan uang. ***






