METRO NTT – Tragedi mengerikan mengguncang warga Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Seorang pemuda berusia 29 tahun, Ruliyanto, tega membakar kakak kandungnya sendiri saat sang kakak sedang khusyuk menunaikan salat asar. Motifnya? Hanya karena persoalan uang warisan.
Insiden yang terjadi pada 22 Oktober 2024 itu kini terbongkar dalam sidang di Pengadilan Negeri Kepanjen, Senin (30/6). Ruliyanto yang berasal dari Desa Taman Kuncaran kini duduk di kursi pesakitan dan terancam hukuman mati atas perbuatannya yang dinilai sadis dan tidak berperikemanusiaan.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anjar Rudi Admoko mengungkapkan, sebelum pulang ke rumah, Ruliyanto telah terlebih dulu membeli 1 liter bensin. Setengah ia gunakan untuk motornya, sementara sisanya ia bawa pulang dan ditaruh di halaman depan rumah — seolah sudah menyimpan niat jahat sejak awal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesampainya di rumah, Ruliyanto melihat kakaknya, Yayuk Fitriah (35), memasukkan kasur baru ke dalam kamar. Pemuda ini langsung menuntut penjelasan soal uang hasil penjualan rumah warisan ayah mereka. Namun ibunya, Poniyem (57), menyebut uang itu sudah habis untuk biaya pemakaman sang ayah.
Pernyataan itu justru memicu amarah Ruliyanto. Ia merasa ibunya memihak kakaknya. Dalam kondisi kalap, ia mengambil bensin dan menyiramkan ke tembok kamar — dan langsung ke tubuh Yayuk yang tengah salat. Tanpa ragu, ia menyalakan korek dan membakar sang kakak hidup-hidup.
Yayuk mengalami luka bakar parah hingga 70 persen dan sempat dirawat lima hari di RSU Pindad, Turen, sebelum akhirnya meninggal dunia.
Yang mengejutkan, saat di persidangan, Ruliyanto terlihat tenang. Ketika hakim bertanya soal keberadaan korban, jawabannya ringan dan tanpa penyesalan: “Tidak ada, Yang Mulia.”
Ruliyanto kini dijerat pasal berlapis, mulai dari Pasal 340 KUHP (Pembunuhan Berencana), 338 KUHP (Pembunuhan), 187 ayat 3 KUHP (Pembakaran), hingga 351 ayat 3 KUHP (Penganiayaan yang Menyebabkan Kematian). Hukuman maksimal yang menantinya adalah mati atau penjara seumur hidup.
Satu pertanyaan kini tersisa: apakah iri hati bisa lebih mematikan daripada api itu sendiri?






