METRO NTT — Seorang siswa SMP Fransiskus Ruteng dilaporkan tenggelam saat berwisata di objek wisata Tiwu Pai, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 11 Januari 2026. Hingga Minggu sore, korban belum ditemukan.
Korban bernama Armendo W. Jeferson, 14 tahun. Ia datang ke Tiwu Pai bersama sejumlah temannya dengan mengendarai sepeda motor dari Ruteng untuk berlibur.
Kapolsek Reo, Ipda Joko Sugiarto, mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 Wita. Setibanya di lokasi, korban dan rekan-rekannya masuk ke kawasan wisata setelah membeli tiket masuk. Mereka kemudian berenang di salah satu kolam dari tiga titik lokasi berenang yang tersedia di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Berdasarkan keterangan rekan korban, setelah membeli tiket mereka langsung berenang. Namun keterangan mereka masih sepotong-sepotong karena disampaikan sambil menangis,” kata Joko kepada wartawan, Minggu.
Menurut Joko, arus air di lokasi kejadian cukup deras. Diduga korban terseret arus hingga menghilang dari pantauan teman-temannya. “Korban diduga terseret arus yang cukup deras sehingga tidak terlihat lagi,” ujarnya.
Setelah menerima laporan dari masyarakat, aparat Polsek Reo bersama Satuan Polisi Air dan Udara (Polairud) Polres Manggarai, Babinsa Reo, serta warga setempat melakukan pencarian. Tim menyisir aliran sungai dan area sekitar air terjun Tiwu Pai.
“Pencarian dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan karena arus air deras dan kondisi cuaca tidak stabil,” kata Joko.
Hingga Minggu sore, pencarian belum membuahkan hasil. Cuaca buruk dan tingginya debit air menjadi kendala utama. Proses pencarian rencananya akan dilanjutkan pada Senin, 12 Januari 2026.
Selain upaya pencarian, masyarakat adat setempat bersama aparat kepolisian juga menggelar ritual adat di lokasi korban diduga tenggelam.
Sementara itu, Camat Reok Barat, Tarsisius R. Asong, mengatakan bahwa pengelola wisata Tiwu Pai sebenarnya telah mengumumkan penutupan sementara kawasan tersebut sejak 5 Januari 2026. Penutupan dilakukan karena curah hujan yang tinggi dan kondisi alam yang dinilai berisiko.
“Sejak 5 Januari sudah ada pengumuman penutupan sementara karena curah hujan sangat tinggi,” ujar Tarsisius.
Namun demikian, Tarsisius mengaku belum mengetahui secara pasti alasan pengunjung masih bisa membeli tiket dan berenang di lokasi wisata tersebut. “Kami belum memastikan secara resmi kenapa pengunjung masih bisa masuk dan membeli tiket padahal sudah ada informasi penutupan sementara,” katanya.
Peristiwa ini menambah daftar kecelakaan di lokasi wisata alam akibat cuaca ekstrem, sekaligus memunculkan pertanyaan soal pengawasan dan penerapan standar keselamatan di kawasan wisata.
Penulis : Risaldus Pan
Editor : Ricky






