MANGGARAI – Ratusan pendukung pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Manggarai masing-masing mengantarkan jagoan mereka menuju “mbaru wunut” (rumah ijuk) di Kota Ruteng, Selasa, 24 September 2024.
Di sana, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Manggarai menyelenggarakan Deklarasi Kampanye Damai menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Manggarai 27 November mendatang.
Pantauan metrontt, pasangan calon Maksimus Ngkeros-Marianus Ronald Susilo (Maksi-Ronald), Herybertus Nabit-Fabianus Abu (Hery-Fabi) dan pasangan Yohanes Halut-Thomas Dohu (Yohan-Thomas) tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 wita. Mereka duduk sesuai dengan nomor urut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain membaca dan menandatangani naskah deklarasi kampanye damai, ketiga paslon juga naik menuju panggung untuk menyanyikan lagu secara bersamaan sambil bergandeng tangan. Tak hanya itu, KPU juga mempersilahkan paslon untuk masing-masing membawakan lagu yang mereka pilih.
Selama deklarasi kampanye damai berlangsung, masing-masing pendukung dengan penuh semangat meneriakkan yel-yel. Pendukung Maksi-Ronald misalnya, dengan suara lantang mereka meneriakkan ‘ganti Bupati Manggarai’.
“Siapa kita? ‘Maksi Ronald’! Ganti Bupati, ganti-ganti,” teriak sejumlah pendukung pasangan nomor urut 1. “Maksi-Ronald ambil alih!,” teriak pendukung lainnya.
Tepat di belakang tenda yang diduduki Kapolres, Kepala Kejaksaan Negeri, dan Sekertaris Daerah Kabupaten Manggarai, pendukung Maksi-Ronald berdiri sambil yel-yel dengan mengacungkan jari telunjuk untuk paslon nomor urut 1.
Selain meneriakkan ‘ganti Bupati’, sebagian dari pendukung Maksi-Ronald juga sesekali berteriak dengan menyebut ‘Ratu kemiri’.
“Tumbangkan ratu kemiri, tumbangkan,!” teriak mereka.
Ratu Kemiri merupakan julukan terhadap Meldiyanti Hagur, istri calon Bupati Manggarai petahana Herybertus Nabit. Di tahun 2022, Meldy yang diketahui sebagai pengusaha hasil bumi itu pernah jadi sorotan publik hingga diperiksa penyidik tipikor Polres Manggarai dalam dugaan kasus suap proyek APBD yang dilaporkan seorang kontraktor. Namun, belakangan kasus tersebut dihentikan penyelidikannya oleh Polisi karena tidak cukup bukti. (*)






