METRO NTT – Tahun ajaran baru biasanya dipenuhi keceriaan siswa baru yang berbondong-bondong mengenakan seragam putih merah. Namun, pemandangan berbeda terjadi di SDN 1 Kendalrejo, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Di tengah hiruk pikuk semangat tahun ajaran 2025, sekolah ini hanya menyambut satu siswa baru!
Ya, hanya satu murid. Satu kursi terisi. Satu nama yang dipanggil saat absensi. Tapi jangan salah sangka—semangat para guru dan staf sekolah tak ikut menyusut. Mereka tetap membara, seperti menyambut seratus murid sekaligus.
Kepala SDN 1 Kendalrejo, Didin Luskha, mengungkapkan bahwa kondisi ini bukan tanpa alasan. “Jumlah lulusan TK di wilayah sekitar memang sedikit tahun ini. Hanya ada tiga lulusan dari TK desa kami, dan semuanya memilih mendaftar ke SDN 2 Kendalrejo,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lalu siapa gerangan sang siswa istimewa itu?
Namanya Rahmat, bocah tangguh dari TK Giri Arum yang rumahnya berjarak hanya beberapa langkah dari SDN 1 Kendalrejo. Dialah satu-satunya siswa baru yang resmi menjadi bagian dari keluarga besar sekolah tersebut.
Menurut Didin, pihak sekolah tak tinggal diam melihat minimnya pendaftar. Mereka sudah melakukan berbagai upaya untuk menarik calon siswa, mulai dari sosialisasi ke TK dan RA, menyambangi langsung para wali murid, hingga mengadakan lomba mewarnai celengan yang sempat menyedot perhatian anak-anak pra-sekolah di wilayah sekitar.
Namun, realitasnya tetap berat. Di lingkungan terdekat, terdapat lima SD lain yang turut bersaing memperebutkan murid baru. Ini menjadikan persaingan antar sekolah dasar di wilayah tersebut semakin sengit.
Meski demikian, SDN 1 Kendalrejo memilih untuk tetap berdiri tegak. Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap digelar secara formal, seolah menyambut satu angkatan besar. Hanya saja, kali ini hanya ada satu murid yang mengikuti—Rahmat.
Guru Kelas 1, Mita Purwanti, yang sekaligus menjadi pembimbing Rahmat, menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada penggabungan kelas. “Materi kelas 1 berbeda dengan kelas lainnya, jadi kami tetap mengajar Rahmat secara khusus,” kata Mita.
Yang lebih mengharukan, Rahmat menunjukkan sikap luar biasa di hari pertamanya. Ia tak canggung, bahkan sejak awal sudah berani masuk sekolah tanpa didampingi orang tua. “Dia anak yang mandiri dan cepat beradaptasi. Kami berusaha membuatnya merasa nyaman dengan perhatian dan pendampingan maksimal,” tambah Mita.
Kisah SDN 1 Kendalrejo ini bukan sekadar soal angka, tapi tentang semangat, ketulusan, dan dedikasi. Bahwa di tengah krisis peserta didik, masih ada para pendidik yang rela mengajar dengan sepenuh hati—meski hanya untuk satu jiwa kecil bernama Rahmat.
Satu murid. Seribu harapan.






