Harus Tolak Proyek Geothermal di Poco Leok – Demi Keadilan, Lingkungan, dan Masa Depan Manggarai

- Editor

Jumat, 18 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harus Tolak Proyek Geothermal di Poco Leok – Demi Keadilan, Lingkungan, dan Masa Depan Manggarai

Harus Tolak Proyek Geothermal di Poco Leok – Demi Keadilan, Lingkungan, dan Masa Depan Manggarai

METRO NTT — Poco Leok, sebuah kawasan subur di jantung Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, hari ini menjadi saksi bisu dari ketegangan antara harapan pembangunan dan suara rakyat yang merasa ditindas. Pemerintah pusat dan PT PLN (Persero) bersikukuh melanjutkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan tersebut dengan dalih transisi energi bersih. Namun di balik jargon “energi hijau” dan “kepentingan nasional”, ada kenyataan pahit yang tak bisa diabaikan: proyek geothermal di Poco Leok harus ditolak.

1. Kehendak Rakyat adalah Hukum Tertinggi

Dalam berbagai aksi demonstrasi dan penolakan terbuka, masyarakat Poco Leok telah menyatakan sikapnya dengan jelas dan konsisten: mereka tidak setuju proyek ini dijalankan di tanah adat mereka. Penolakan ini bukan tanpa alasan. Mereka khawatir terhadap ancaman kerusakan lingkungan, hilangnya sumber air, dampak sosial-budaya, dan perpecahan masyarakat akibat intervensi eksternal.

Pembangunan yang mengabaikan partisipasi dan persetujuan masyarakat lokal bukanlah pembangunan, tetapi penindasan. Apalagi jika diiringi dengan pendekatan represif dan intimidatif, seperti yang terlihat dari kehadiran aparat keamanan bersenjata dalam kunjungan pejabat tinggi. Ini menciptakan suasana teror, bukan dialog.

2. Tanah Adat Bukan Tanah Kosong

Bagi orang Manggarai, tanah bukan sekadar ruang ekonomi. Tanah adalah warisan leluhur, tempat bersemayamnya nilai-nilai budaya, tempat berlangsungnya ritus, dan simbol identitas kolektif. Poco Leok adalah salah satu kawasan yang masih kuat menjaga tatanan adat. Kehadiran proyek panas bumi di kawasan ini akan mengganggu harmoni itu.

Tidak bisa ada pembangunan yang sukses jika dimulai dari perampasan ruang hidup. Tanah-tanah adat di Poco Leok bukanlah tanah kosong milik negara. Ia memiliki sejarah, kehidupan, dan sistem pengelolaan yang sudah berlangsung turun-temurun. Mengabaikannya adalah mengingkari semangat keadilan ekologis dan sosial.

3. Risiko Ekologis Nyata dan Tak Terbalas

Berdasarkan pengalaman di banyak tempat lain, proyek geothermal bukan tanpa risiko. Meskipun sering disebut sebagai energi bersih, kenyataannya pengeboran panas bumi bisa merusak struktur tanah, menyebabkan longsor, mencemari sumber air, bahkan memicu gempa kecil akibat perubahan tekanan bawah tanah.

Baca Juga:  3 Kepala Keluarga di Cibal Barat Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran: Motor-Barang Berharga Lainnya Hangus

Apakah pemerintah dan investor siap menjamin 100% keselamatan lingkungan Poco Leok yang masih alami dan menjadi penyangga ekosistem di sekitarnya? Ketika sumur-sumur kering, ketika tanah longsor menimpa ladang, siapa yang bertanggung jawab? Sejarah menunjukkan, kerusakan ekologis selalu ditanggung masyarakat kecil, sementara keuntungan mengalir ke pusat.

4. Tidak Ada Darurat Energi yang Membenarkan Pemaksaan

Indonesia memang perlu memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, itu bukan berarti seluruh wilayah harus dikorbankan atas nama transisi energi. Terlebih lagi, data konsumsi listrik di NTT tidak menunjukkan krisis energi yang parah. Listrik yang dihasilkan justru lebih banyak diekspor ke wilayah industri besar.

Artinya, Poco Leok hanya menjadi “ladang korban” untuk menyuplai energi ke wilayah lain, tanpa menikmati manfaat langsung yang sebanding. Di mana letak keadilannya?

5. Alternatif Energi dan Pembangunan Berkeadilan Masih Mungkin

Jika pemerintah serius ingin membangun NTT, maka yang harus dilakukan adalah pendekatan yang menghargai manusia dan lingkungan. Alih-alih memaksakan proyek geothermal, mengapa tidak berinvestasi pada energi surya, pemberdayaan ekonomi lokal, perbaikan infrastruktur dasar, dan pendidikan?

Baca Juga:  Tragedi Laut Kembali Terjadi: KM Barcelona V Terbakar, Penumpang Lompat Menyelamatkan Diri

Model pembangunan yang memuliakan hak masyarakat adat, menjaga ekologi, dan tetap produktif secara ekonomi bukan mustahil untuk diterapkan. Tapi itu hanya bisa terjadi jika negara mau mendengar.


Kesimpulan: Suara Rakyat Lebih Kuat dari Mesin Bor

Pembangunan sejati lahir dari kehendak rakyat, bukan dari tekanan pemilik modal. Harus kita tegaskan: proyek geothermal di Poco Leok bukan jalan keluar, melainkan jalan menuju konflik dan kerusakan yang lebih luas. Menolak proyek ini bukan berarti menolak kemajuan, tapi justru memperjuangkan model pembangunan yang lebih adil, berkelanjutan, dan manusiawi.

Poco Leok bukan hanya milik orang Poco Leok. Ia milik kita semua yang percaya bahwa tanah, budaya, dan suara rakyat harus dihormati. Sudah saatnya pemerintah mundur selangkah dan membuka ruang dialog sejati, bukan monolog atas nama pembangunan. Jika tidak, sejarah akan mencatatnya sebagai tragedi lain dari pembangunan yang dipaksakan.

Redaksi

Berita Terkait

Bupati Agas Resmi Membuka Kegiatan Muskomcab dan Masa Penerimaan Anggota Pemuda Katolik Cabang Manggarai Timur
Peduli Sesama, Satlantas Polres Manggarai Barat Bagikan Sembako Door-to-Door, Kepada Warga di Kota Premium Labuan Bajo
Kapolsek Satarmese Pimpin Kerja Bakti Bersama TNI dan Masyarakat Perbaik Jalan Rusak di Desa Iteng
Satlantas Polres Manggarai Patroli Malam, Cegah Balap Liar hingga Tekan Kecelakaan
Warga Lembor Ditemukan Tewas di Sawah Wae Bangka, Begini Pengakuan Warga
Sosok IPDA Thomas Ola Payi: Ketulusan di Balik Seragam saat Jumat Agung di Labuan Bajo
UPTD SPAM Manggarai Timur Gandeng BRI, Permudah Pembayaran Air hingga ke Pelosok
Peduli Pendidikan di Sumba Timur, Wakapolda NTT Salurkan Bantuan untuk Siswa dan Perbaikan Sekolah

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 23:13

Bupati Agas Resmi Membuka Kegiatan Muskomcab dan Masa Penerimaan Anggota Pemuda Katolik Cabang Manggarai Timur

Sabtu, 18 April 2026 - 06:56

Peduli Sesama, Satlantas Polres Manggarai Barat Bagikan Sembako Door-to-Door, Kepada Warga di Kota Premium Labuan Bajo

Sabtu, 18 April 2026 - 06:52

Kapolsek Satarmese Pimpin Kerja Bakti Bersama TNI dan Masyarakat Perbaik Jalan Rusak di Desa Iteng

Kamis, 16 April 2026 - 04:52

Satlantas Polres Manggarai Patroli Malam, Cegah Balap Liar hingga Tekan Kecelakaan

Kamis, 9 April 2026 - 02:42

Sosok IPDA Thomas Ola Payi: Ketulusan di Balik Seragam saat Jumat Agung di Labuan Bajo

Berita Terbaru