Heboh! Ibu dan Anak Kandung Nekat Bikin Video Mesum demi Cuan dari Medsos – Polisi Gerak Cepat Tetapkan Tersangka!

METRO NTT — Sebuah kejadian menggemparkan baru saja terungkap ke publik dan langsung menyita perhatian warganet. Seorang ibu dan anak kandungnya di salah satu kota di Indonesia dilaporkan membuat konten tak senonoh yang melibatkan hubungan sedarah, hanya demi mendapatkan uang dari platform media sosial.
Peristiwa yang terjadi di Kabupten Kuningan, Jawa Barart ini disebut sebagai salah satu kasus paling mengejutkan dalam sejarah digital tanah air ini dibongkar oleh kepolisian setelah menerima laporan dari masyarakat yang curiga atas konten tak lazim yang beredar di jagat maya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam video tersebut, sang ibu dan anak dengan sadar melakukan aksi mesum yang direkam dan disebarkan secara daring. Tak hanya itu, ada satu orang lainnya yang terlibat sebagai perekam, diduga turut serta dalam perencanaan dan distribusi video tersebut.
“Kami langsung menetapkan ketiganya sebagai tersangka,” ujar Kapolres Kuningan dalam konferensi pers. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa perangkat elektronik, akun media sosial, serta transaksi keuangan yang mengalir dari platform penyedia konten berbayar.
Motif ekonomi disebut-sebut menjadi alasan utama di balik tindakan bejat ini. Sang anak diketahui menganggur, sementara sang ibu hanya bekerja serabutan. Keduanya tergiur dengan iming-iming penghasilan tinggi dari konten dewasa yang saat ini marak di internet.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia digital dan mempertegas urgensi pengawasan terhadap konten-konten bermuatan asusila, terutama yang menyasar media sosial sebagai ladang cuan instan.
Kini, ketiga tersangka tengah menjalani proses hukum dan terancam pasal berlapis, termasuk pelanggaran UU Pornografi dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Polisi juga menggandeng Komnas Perlindungan Anak untuk memastikan aspek psikologis dari kasus yang sarat kejiwaan ini.
Netizen pun geram. Media sosial dibanjiri komentar kecaman, dengan sebagian besar menyerukan agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Banyak pula yang meminta agar platform digital lebih tegas dalam menyaring dan menindak konten tak bermoral yang merusak tatanan sosial dan nilai keluarga.
Apakah ini pertanda makin lemahnya moralitas di era digital? Atau justru sinyal kuat bahwa ekonomi memaksa sebagian orang melakukan apa pun, bahkan yang paling menjijikkan?
Ikuti terus perkembangan kasus ini hanya di sini – karena ini bukan sekadar berita, ini adalah peringatan nyata bagi kita semua!








