METRO NTT – Kisah hidup Donatus Ruek (58), warga Waerana, Kelurahan Ronggakoe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, yang tinggal seorang diri di gubuk reyot mendapat perhatian publik. Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur memastikan data Donatus sedang diproses untuk mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.
Kepala Dinas Sosial Manggarai Timur, Yani Gagu, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan terhadap data Donatus setelah pemberitaan mengenai kondisi hidupnya beredar di media.
“Siang… Kami sudah cek datanya. BPJS aktif, tetapi desil (pemeringkatan kesejahteraannya) belum ditentukan oleh BPS. Semua bansos berdasarkan desil. Tabe,” ujar Yani saat dihubungi, Jumat (14/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Yani, saat ini Dinas Sosial telah mengusulkan data Donatus melalui aplikasi milik Kementerian Sosial agar dilakukan pemeringkatan status kesejahteraan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Setelah proses pemeringkatan selesai, pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial akan menentukan apakah Donatus masuk dalam kategori penerima bantuan sosial atau tidak.
“Kami usulkan melalui aplikasi Kemensos agar dapat pemeringkatan status kesejahteraannya. Lalu tinggal menunggu persetujuan atau approve dari Kemensos untuk bansos. Bantuan sosial diperuntukkan bagi masyarakat pada desil 1 sampai 4,” jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, Donatus mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh kesederhanaan dan kesunyian. Ia telah tinggal di lokasi tersebut sejak kecil bersama kedua orang tuanya.
Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Donatus memilih tetap bertahan di tempat itu, meskipun sebagian besar warga yang dulu tinggal di kawasan tersebut telah pindah ke Kampung Kower.
“Saya tinggal di sini sejak kecil bersama orang tua sampai mereka meninggal. Dulu di sini masih ada perkampungan, tapi sebagian warga sudah pindah ke Kampung Kower. Saya saja yang memilih tetap tinggal di sini,” ujar Donatus dengan nada lirih kepada wartawan, Kamis (12/3).
Kini di usia yang tidak lagi muda, Donatus harus menjalani hidup seorang diri. Tubuhnya yang mulai renta serta kondisi kesehatan yang sering terganggu membuat aktivitas sehari-harinya menjadi semakin berat.
Ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang kondisinya memprihatinkan. Atap rumahnya hampir roboh ketika angin kencang datang, dan air hujan kerap masuk dari berbagai sisi saat musim hujan tiba.
“Tidak ada pilihan lain selain tinggal di sini. Kadang kalau angin kencang atapnya hampir roboh, dan kalau hujan air masuk dari mana-mana. Saya hanya bisa pasrah,” tuturnya.
Donatus merupakan anak dari lima bersaudara, terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan. Namun dua di antaranya telah meninggal dunia, sementara saudara lainnya telah berkeluarga dan tinggal di tempat berbeda.
Kondisi itu membuat Donatus menjalani hidup seorang diri di tempat yang sudah ia tempati sejak kecil.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Donatus bekerja sebagai petani. Ia mengandalkan hasil kebun kecil miliknya dan sesekali bekerja membantu di kebun milik warga lain.
“Sehari-hari saya bertani dan kadang kerja di kebun orang untuk dapat uang. Tapi tidak setiap hari, karena saya juga sering sakit,” katanya.
Kisah Donatus menjadi potret kehidupan warga di pelosok daerah yang masih hidup dalam keterbatasan. Pemerintah daerah berharap proses pemeringkatan data oleh BPS segera rampung sehingga Donatus dapat masuk dalam daftar penerima bantuan sosial dari pemerintah pusat.
Penulis : Agustinus Ardi
Editor : Reims Nahal






