Kontroversi Kadis Parekrafbud: Verifikasi Media Dipersoalkan, Kini Dilaporkan atas Dugaan Ancaman

- Editor

Senin, 16 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kontroversi Kadis Parekrafbud: Verifikasi Media Dipersoalkan, Kini Dilaporkan atas Dugaan Ancaman

Kontroversi Kadis Parekrafbud: Verifikasi Media Dipersoalkan, Kini Dilaporkan atas Dugaan Ancaman

METRO NTT — Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Stefanus Jemsifori, dilaporkan ke polisi atas dugaan pengancaman melalui pesan WhatsApp. Laporan itu dilayangkan Dionisius Parera alias Doni ke Polres Manggarai Timur pada Ahad malam, 15 Februari 2026.

Laporan Doni teregister dengan nomor LP/B/19/2026/PAMAPTA POLRES MANGGARAI TIMUR NTT. Ia mengaku menerima pesan bernada ancaman dari seseorang yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Stefanus Jemsifori.

Peristiwa ini terjadi selang tiga hari setelah nama Stefanus mencuat dalam rapat Forkopimda Plus yang memberinya mandat melakukan verifikasi dan validasi berkas media dan pers yang beroperasi di Labuan Bajo. Mandat tersebut menuai sorotan karena dinilai berada di luar kewenangan dinas yang dipimpinnya.

Dalam surat hasil rapat tertanggal 10 Februari 2026, seluruh media dan pers di Labuan Bajo diwajibkan melengkapi dokumen untuk diverifikasi oleh Kepala Dinas Parekrafbud. Sejumlah pihak menilai kebijakan itu berpotensi tumpang tindih dengan kewenangan Dewan Pers.

Pada Sabtu malam, 14 Februari 2026, sekitar pukul 20.00 Wita, Stefanus mendatangi lokasi sengketa di Merot, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng. Ia disebut menggunakan mobil dinas berpelat merah nomor EB 8054 WG. Kehadirannya memicu reaksi warga setempat yang saat itu tengah menghadapi situasi hukum terkait penahanan tiga warga oleh Unit Pidana Umum Polres Manggarai Barat atas laporan dugaan pengancaman pada 2023.

Doni mengatakan, dugaan pengancaman bermula dari pesan WhatsApp berbunyi, “Pa Doni, apa ngoeng Dite e…???” Merasa janggal, ia menghubungi nomor tersebut. Menurut Doni, penelepon mengaku sebagai Stefanus Jemsifori dan mempertanyakan keberatannya atas kunjungan ke lokasi.

Baca Juga:  NGERI! ART Asal NTT Ini Disiksa Hingga Dipaksa Makan Kotoran Anjing oleh Majikannya di Batam

“Saya Stefan Jemsifori. Apa masalahnya kalau saya pergi kunjung family? Saya serius ini,” kata Doni menirukan ucapan penelepon.

Doni mengaku menjawab bahwa ia juga serius. Percakapan itu, menurut dia, berlanjut dengan nada tinggi. “Saya akan cari kau. Kau tunggu besok,” ujar Doni menirukan ancaman yang diterimanya. Tak lama kemudian, ia kembali menerima pesan berbunyi, “Besok saya akan ketemu kraeng. Kraeng di mana?”

Merasa terancam, Doni melapor ke polisi. Ia berharap aparat penegak hukum memproses kasus tersebut secara profesional. “Tidak boleh ada yang kebal hukum atau mendapat perlindungan karena jabatan,” ujarnya.

Baca Juga:  Melahirkan Usai Pulang Sekolah, Seorang Siswi Buang Bayi di Toilet Puskesmas, Kini Diamankan Polisi

Menurut Doni, sebagai pejabat publik, tindakan tersebut tidak patut dicontoh dan berpotensi melanggar hukum pidana. Ia meminta kasus itu diproses hingga tuntas agar menjadi pembelajaran.

Pendapat berbeda disampaikan Niko, warga adat Mbehal yang tinggal di Merot. Ia membenarkan kehadiran Stefanus pada malam itu. “Beliau datang ke kebun, katanya kunjung keluarga. Saya kaget karena pakai mobil dinas,” kata Niko. Ia mempertanyakan penggunaan kendaraan dinas untuk kepentingan di luar kegiatan resmi.

Hingga berita ini diturunkan, Stefanus Jemsifori belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Ahad siang, 15 Februari 2026, belum mendapat jawaban.

Penulis : Fendi Ruem

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Usai Pesta Adat Wagal, Dua Warga Cireng Jadi Korban Pengeroyokan di Rawuk Ndoso
Perempuan Asal Malang Ditemukan Tewas di Kamar Kos di Kupang, Baru Dua Hari Keluar dari Rumah Sakit
Antisipasi Laka Lantas dan Balap Liar, Satlantas Polres Manggarai Gelar Patroli Malam
Jejak Perdagangan Komodo hingga Thailand: Kolaborasi Polisi Bongkar Jaringan dari Manggarai Timur
SKCK ADO Dihapus, Polda NTT Tunjukkan Kekuatan Big Data dalam Penegakan Hukum
Pria di Manggarai Ditangkap Usai Bobol Kios, Gasak Kain Songke hingga 200 Kg Kacang, Kerugian Rp18 Juta
ASTAGA! Siswa SMA di Ruteng Sudah Jadi Ayah, Sekolah Masih ‘Menunggu Undangan’
Guru Honorer di Manggarai Barat Ditangkap Usai Curi Motor Pelajar di Ruteng

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:09

Usai Pesta Adat Wagal, Dua Warga Cireng Jadi Korban Pengeroyokan di Rawuk Ndoso

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:08

Perempuan Asal Malang Ditemukan Tewas di Kamar Kos di Kupang, Baru Dua Hari Keluar dari Rumah Sakit

Rabu, 22 April 2026 - 02:05

Antisipasi Laka Lantas dan Balap Liar, Satlantas Polres Manggarai Gelar Patroli Malam

Rabu, 8 April 2026 - 13:38

Jejak Perdagangan Komodo hingga Thailand: Kolaborasi Polisi Bongkar Jaringan dari Manggarai Timur

Minggu, 29 Maret 2026 - 03:58

SKCK ADO Dihapus, Polda NTT Tunjukkan Kekuatan Big Data dalam Penegakan Hukum

Berita Terbaru