METRO NTT — Tragedi tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Selat Padar, kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), pada Desember 2025 lalu masih menyisakan duka mendalam. Hingga kini, tiga wisatawan asal Spanyol yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut belum ditemukan, meski upaya pencarian telah dilakukan secara intensif oleh tim gabungan.
Menanggapi kondisi tersebut, tokoh muda Labuan Bajo, Ricky Morgan, angkat bicara. Ia menilai, pencarian para korban perlu melibatkan seluruh unsur, termasuk para pemangku adat setempat, sebagai bentuk ikhtiar lahir dan batin.
“Kita sudah melihat keterlibatan pemerintah, TNI, Polri, Basarnas, hingga relawan. Namun saya melihat ada satu pendekatan yang belum dicoba secara menyeluruh, yakni keterlibatan tokoh adat,” kata Ricky kepada awak media, Sabtu (3/01/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kronologi Tenggelamnya KM Putri Sakinah
KM Putri Sakinah dilaporkan tenggelam di perairan Selat Padar pada 26 Desember 2025. Kapal wisata tersebut membawa sejumlah wisatawan asing dan kru saat sedang berlayar di kawasan TNK. Diduga, kapal mengalami gangguan akibat cuaca buruk disertai gelombang tinggi, sebelum akhirnya terbalik dan tenggelam.
Dalam insiden itu, beberapa penumpang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, empat wisatawan asal Spanyol dinyatakan hilang. Setelah proses pencarian berlangsung, satu korban berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, sementara tiga korban lainnya hingga kini masih belum ditemukan.
Upaya Pencarian Tim SAR
Sejak kejadian tersebut, Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AL, Polairud, KSOP, Balai Taman Nasional Komodo, serta relawan lokal telah melakukan pencarian intensif. Operasi SAR dilakukan melalui penyisiran laut dan udara di sejumlah titik yang diperkirakan menjadi lokasi jatuhnya korban.
Pencarian dilakukan dengan menggunakan kapal cepat, kapal nelayan, peralatan selam, serta pemantauan udara menggunakan drone dan helikopter. Namun, kondisi arus laut yang kuat, kedalaman perairan, serta cuaca yang kerap berubah menjadi kendala utama dalam proses pencarian.
Dorongan Pelibatan Upacara Adat
Ricky Morgan menilai, dalam konteks budaya Manggarai, pendekatan adat kerap menjadi jalan ikhtiar yang diyakini masyarakat setempat.
“Yang saya lihat dalam kebiasaan masyarakat adat Manggarai, ketika ada warga yang hilang karena tenggelam atau sebab lainnya, tokoh adat yang memahami prosedur adat akan melakukan ritual tertentu, seperti membawa ayam hitam dan telur dalam sebuah seremoni adat untuk mencari petunjuk,” jelas Ricky.
Menurutnya, ritual tersebut memang terlihat sederhana, namun dalam banyak pengalaman masyarakat, upacara adat kerap memberikan jawaban dan membantu menemukan korban yang hilang.
“Ini mungkin dianggap halu atau lelucon oleh sebagian orang. Tapi apa salahnya kita mencoba dengan berbagai cara dan upaya. Perairan Labuan Bajo ini ada pemiliknya, ada leluhur (empo). Bisa jadi mereka membutuhkan doa. Apalagi hampir setiap tahun selalu ada peristiwa orang tenggelam di perairan TNK,” ujarnya dengan nada sedih.
Harapan kepada Pemerintah
Ricky berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat merespons usulan pelaksanaan upacara adat tersebut sebagai bagian dari upaya kemanusiaan.
“Harapan saya, pemerintah bisa merespons ini secepatnya. Ini bukan untuk meniadakan kerja SAR, tetapi sebagai pelengkap ikhtiar, agar keluarga korban mendapat kejelasan dan ketenangan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian terhadap tiga korban KM Putri Sakinah masih terus dilanjutkan oleh Tim SAR gabungan, dengan evaluasi berkala menyesuaikan kondisi cuaca dan perairan di Selat Padar.
Penulis : Tim Metro NTT
Editor : R. Nahal






