METRO NTT – Jagat media sosial Manggarai kembali memanas! Marsel Ahang, aktivis yang dikenal vokal dalam berbagai isu lokal, kali ini jadi sasaran kritik tajam di Facebook. Penyebabnya? Penolakannya terhadap rencana pembangunan Komando Daerah Militer (Kodam) di wilayah Pulau Flores.
Di grup Facebook populer Forum Rakyat Peduli Manggarai (FRPM), sebuah akun bernama Masa Depan melontarkan komentar pedas yang langsung menyenggol pribadi Marsel.
“Kajian karena tdk pakai isi kepala, asal omon-omon saja. Nana ew, harus perbanyak literasi ite, dan banyak duduk diskusi dgn orang hebat. Ini efek dari pegang Toa terus dan selalu berantem di ruangan hanya untuk mendapatkan cuan. Kerja kebun nana… itu yang efektif,” tulis akun tersebut, menyinggung kebiasaan Marsel berbicara lantang di berbagai ruang publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Komentar itu langsung mendapat dukungan dari akun Pauls Hadir, yang justru memuji rencana pembangunan Kodam di Flores. Menurutnya, keberadaan Kodam akan membawa berbagai dampak positif bagi masyarakat.
“Kalau saya pribadi sangat bersyukur dan merasa bangga. Kodam di NTT, apalagi di tanah Flores kita, sangat bermanfaat,” tulis Pauls.
Ia lalu membeberkan lima manfaat utama berdirinya Kodam:
- Meningkatkan keamanan wilayah.
- Memberikan pelatihan bela negara kepada masyarakat.
- Pemberdayaan masyarakat lewat pembangunan infrastruktur.
- Membantu penanganan bencana alam.
- Mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan daerah.
Sementara itu, akun lain bernama Molas Golo tak mau ketinggalan. Ia menyindir tajam gaya bicara Marsel yang kerap lantang namun dinilainya tidak realistis.
“Pikir diha pimpinan TNI itu mudah dikelola.. oe Marsel.. bo eme kelola hi nabit ite pas.. karena sama-sama tukang kelola,” tulisnya disertai emotikon tertawa.
Marsel Ahang sendiri tak tinggal diam. Ia ikut menanggapi serangan itu dengan nada menantang namun diplomatis.
“Bagaimana bisa saya menjelaskan ke keraeng, ite saja pakai akun palsu. Co tara rantang dite. Kenapa ite masih simpan dendam dengan pilkada? Mari kita berdiskusi untuk membangun,” tulis Marsel, menyinggung persoalan dendam politik yang masih dibawa-bawa.
Drama maya ini sontak jadi bahan perbincangan hangat netizen lainnya. Sebagian mendukung Marsel karena berani menyuarakan pendapat kritis, sementara lainnya menilai kritiknya tak berdasar dan hanya mencari panggung.
Polemik soal rencana pembangunan Kodam di Flores seolah membuka kembali luka-luka lama, mulai dari rivalitas Pilkada hingga pertarungan wacana antara aktivis dan pendukung pembangunan.
Apakah diskusi ini akan berujung pada dialog konstruktif atau justru makin memperlebar jurang perpecahan? Yang jelas, perdebatan ini belum akan berakhir dalam waktu dekat. ***






