METRO NTT — Kabar duka menyelimuti dunia musik Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Salah satu penyanyi berbakat dari tanah ini, Erphin Dion, telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan ruang kosong di panggung musik daerah, tetapi juga menyisakan luka yang dalam bagi mereka yang pernah berjalan bersamanya dalam irama hidup—salah satunya adalah Santi, rekan duet yang menyimpan kisah panjang dan penuh makna bersama almarhum.
Di tengah duka yang mendalam, Santi menyampaikan kisahnya melalui sebuah unggahan TikTok yang menyentuh banyak hati. Ia mengenang awal pertemuannya dengan Erphin, lebih dari satu dekade silam, tepatnya pada tahun 2011. Saat itu, Santi masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Suaranya yang jernih dan penuh potensi menarik perhatian Erphin, yang tanpa ragu mengajaknya berkolaborasi. Dari sana, bukan hanya lagu-lagu yang tercipta, tapi juga ikatan emosional yang hangat dan mendalam.
Bagi Santi, Erphin bukan sekadar partner bermusik. Ia adalah sosok kakak, mentor, sekaligus keluarga. Bahkan istri Erphin pun menerima Santi seperti anak sendiri. Meski pasangan ini tidak memiliki anak kandung, mereka memperlakukan Santi dengan kasih sayang yang tulus. Dalam kenangannya, Santi tak hanya menyusuri panggung bersama mereka, tapi juga jalanan panjang antara Ruteng dan Bajawa—kadang demi pertunjukan, kadang hanya demi kebersamaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, hidup berjalan dengan arah yang tak selalu bisa ditebak. Ketika ibunda Santi meninggal dunia, kehidupan Santi ikut berubah. Ia memutuskan untuk berumah tangga, dan perlahan-lahan, komunikasi dengan Erphin mulai merenggang. Tak ada perselisihan, hanya jarak dan waktu yang tumbuh diam-diam. Hingga suatu hari, kabar duka itu datang, menghentak tanpa aba-aba. Erphin telah tiada.
Santi tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Sosok yang begitu berjasa dalam hidup dan kariernya kini hanya tinggal kenangan. Dalam unggahan singkat namun sarat emosi, ia menulis, “Bahagia di surga orang baik.” Sebuah kalimat yang sederhana, namun menyimpan seluruh cinta dan kehilangan yang tak bisa dilisankan.
“Bahagia di surga orang baik,” tulis Santi dalam unggahan tersebut, menutup ceritanya dengan doa yang mengharukan.
Erphin Dion mungkin telah pergi secara fisik, namun karya dan ketulusannya masih hidup—mengalun dalam lagu-lagu daerah Manggarai yang ia garap bersama Santi, dan melekat di hati mereka yang pernah mengenalnya. Melalui kisah Santi, kita diajak merenung: bahwa dalam setiap perjalanan hidup, pertemuan dengan orang-orang yang tulus bisa menjadi anugerah yang membekas selamanya.
Kini, kenangan itu abadi. Seperti nada-nada yang tak pernah benar-benar hilang, hanya berganti bentuk—menjadi gema dalam ingatan dan doa yang tak putus.






