METRO NTT — Minggu pagi (6/7/2025), suasana tenang Kampung Suka Kiong, Desa Suka Kiong, Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, mendadak berubah menjadi duka mendalam. Seorang perempuan paruh baya, berinisial FN (58), nekat mengakhiri hidup dengan cara tragis—melompat ke jurang sedalam 12 meter di Wae Keling, tepat dari atas jembatan kecil yang biasa dilintasi warga.
Tragedi memilukan ini disaksikan langsung oleh dua anak, OA (16) dan IH (12), yang saat itu kebetulan melintas. Mereka tak pernah menyangka, langkah kecil mereka menuju kebun akan berubah menjadi saksi bisu dari akhir kehidupan seseorang.
FN berdiri di tepi jembatan. Tatapannya kosong, mengarah lurus ke dalam jurang. Tak ada kata, tak ada air mata. Hanya keheningan yang menggantung di udara. Ketika OA dan IH menyadari niat FN, mereka langsung berteriak histeris, memohon agar perempuan itu mengurungkan niatnya. Tapi semuanya sudah terlambat. Dalam hitungan detik, tubuh FN melayang dan menghilang ditelan kedalaman jurang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa detik kemudian, terdengar jeritan memilukan dari dasar jurang—jeritan terakhir FN sebelum senyap untuk selamanya. Jeritan itu masih menghantui telinga dua anak kecil yang kini harus memikul trauma yang tak seharusnya mereka alami.
OA dan IH lari sekencang mungkin kembali ke kampung, napas mereka tersengal, wajah pucat diselimuti ketakutan. Warga langsung bergegas ke lokasi. Tapi yang mereka temukan hanya tubuh FN yang sudah tak bernyawa. Tubuhnya terkapar dengan luka parah di bagian leher, diduga akibat benturan keras saat terhempas ke bebatuan dasar jurang.
Kapolsek Kuwus, Polres Manggarai Barat, Ipda Arsilinus Lentar, membenarkan insiden tragis itu. “Korban mengalami patah pada bagian leher. Dugaan awal adalah murni bunuh diri. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (7/7/2025).
Keluarga korban menerima kejadian ini sebagai musibah dan memutuskan untuk tidak menempuh jalur hukum. Tak ada surat wasiat, tak ada penjelasan—hanya keheningan yang ditinggalkan FN.
Dikenal sebagai pekerja keras yang hidup sebatang kara, FN selama ini menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan. Ia kerap terlihat membersihkan kebun dan sawah milik warga. Pendiam, rajin, dan tak pernah mengeluh. Tapi ternyata, di balik diamnya, ada luka yang tak tampak.
Tragedi ini kembali membuka mata banyak orang: bahwa di balik senyum dan kerja keras, bisa tersimpan kesepian yang mematikan. FN memilih jalan sunyi—diam-diam mempersiapkan perpisahannya dari dunia, di depan dua saksi kecil yang tak akan pernah melupakan detik-detik mengerikan itu.
Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami beban psikologis, jangan pendam sendiri. Segera cari bantuan. Bicaralah. Karena hidupmu berarti.






