MANGGARAI – Calon Bupati Manggarai nomor urut 1 Maksimus Ngkeros mengatakan, Anggota DPR RI Dapil NTT 1 Fraksi Partai Demokrat, Benny Kabur Harman (BKH) menitipkan masa depan Kabupaten Manggarai melalui dirinya bersama Calon Wakil Bupati Manggarai dr. Marianus Ronald Susilo.
Dalam tatap muka di tiga Desa di Kecamatan Satar Mese, Selasa, 15 Oktober, Maksi berulang kali mengungkapkan isi pertemuannya dengan Politisi nasional asal Satar Mese itu.
“Pak BKH panggil saya dengan sebutan Kesa. Beliau bilang; Kesa, saya sudah 4 periode dan sebentar lagi masuk 5 periode duduk di Senayan. Sekian lama jadi DPR saya tidak bisa berbuat banyak untuk rakyat Manggarai. Berulang kali saya ingin maju pilgub, tapi saya capeh juga karena masyarakat tidak memilih saya. Saya hanya bisa berbuat banyak untuk masyarakat Manggarai lewat orang yang saya percayakan. Karena itu saya percayakan kepada Kesa untuk urus Manggarai ini,” ujar Maksi, mengulangi yang disampaikan BKH saat menemuinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu, lanjut Mantan Kepala Bappelitbangda Manggarai Timur itu, masyarakat di Satar Mese raya jangan ragu untuk mendukung Maksi-Ronald.
“Bapa Mama jangan cemas jika Maksi Ronald nanti terpilih. Di pusat, satu-satunya DPR RI kita hanya BKH. Putra asli Satar Mese. Kalau Maksi Ronald jadi, BKH tidak mungkin tinggalkan kami. Pak Benny ada bersama Maksi Ronald untuk sama-sama membangun Manggarai,” tegas Maksi.
“Saya bilang kepada Pak BKH; Kesa, kalau saya jadi, jangan tinggalkan saya. Bantu juga saya urus Manggarai ini. BKH jawab; baik Kesa, asal bisa menang. Yang kami tunggangi ini adalah partainya Pak BKH. Beliau tentu akan mempertaruhkan segalanya untuk Manggarai ini,” ucap Maksi.
Bermodalkan pengalamannya di birokrasi, Maksi berkomitmen untuk memajukan Kabupaten Manggarai. “Saya berpikir bahwa saya lama di birokrasi. Saya ingin mencoba apa yang saya miliki untuk dipersembahkan kepada daerah tercinta ini,” ujar Maksi disambut tepuk tangan warga.
Bersama Dokter Ronald, kata Maksi, Ia didukung oleh partai koalisi setelah melihat berbagai persoalan di Kabupaten Manggarai.
“Partai menemukan bahwa persoalan di Manggarai sekarang itu ekonomi. Tingkat pendapatan masyarakat Manggarai masih rendah. Garis kemiskinan naik terus. Kemudian semua infrastruktur yang mendukung pergerakan ekonomi masyarakat itu sudah rusak parah. Satar Mese masih lumayan baik. Kalau Bapa Mama lihat ke Cibal, Reok-Reok Barat, Rahong Utara itu hancur smua. Persoalan infrastruktur ini yang membuat ekonomi kita tidak bergerak,” beber Mantan Kepala Dinas PUPR Manggarai itu.
Kemudian lanjut Maksi, retribusi pupuk-pupuk di Manggarai selama ini juga tidak tepat waktu. Apalagi kata Maksi, Kepala Dinas Pertanian Manggarai saat ini dijabat oleh orang yang tidak sesuai dengan kemampuan. “Kalau pupuk tidak tepat waktu memang salah Pemimpin. Karena Kadisnya saja orang hukum. Bukan orang pertanian,” sindir Maksi, seraya menyebut Kepala Dinas PUPR Manggarai juga dijabat oleh orang yang tidak sesuai kemampuan.
Maksi melanjutkan, survei juga menemukan bahwa persoalan indeks Kesehatan di Manggarai masih rendah. Angka kematian bayi dan ibu melahirkan pun masih tinggi pada tahun 2023. Angka kesakitan masyarakat yang harus berada dibawah 15% justru saat ini masih diatas 20%. Belum lagi stunting masih di angka 13% lebih. Sementara di Kabupaten lain sudah di bawah 10%. “Inilah salah satu alasan, mengapa saya memilih jalan bersama Dokter Ronald. Dengan kemampuannya sebagai seorang Dokter, tentu Beliau berkomitmen untuk mengatasi persoalan di bidang kesehatan,” ungkap Maksi.
Mantan Kepala Bappelitbangda Manggarai Timur itu mengatakan, Ia bersama Dokter Ronald tidak ingin banyak mengumbar janji kepada masyarakat. “Puluhan tahun saya di birokrat. Kebutuhan rakyat Manggarai tidak sebanding dengan sumber daya yang kita miliki. Kami tidak mau banyak mengumbar janji. Terutama janji-janji yang tidak masuk akal,” jelas Maksi.
“Jadi Bupati itu jadi Bapak untuk semua orang. Dan bukan untuk tipu orang. Saya 19 tahun jadi Kadis urus rakyat. Paling penting itu jangan pernah tutup pintu rumah. Supaya kita bisa terima orang dan mendengar apa yang mereka omong. Apa maunya rakyat. Kita diskusi untuk memulainya dari mana. Neka rodo reke (jangan tiba-tiba janji) bangun 100 rumah gendang,” tegas Maksi.
Maksi juga menjelaskan berdasarkan penilaian Kementerian Keuangan, kemampuan keuangan di Kabupaten Manggarai justru rendah. Manggarai Timur lebih baik dalam kategori sedang, sementara Manggarai Barat dalam kategori tinggi. “Ini artinya karena Pemda Manggarai tidak mampu lobi ke pusat. Tidak mampu memanfaatkan dan meningkatkan potensi daerah. Bagaimana mau kerja kalau daerah kita tidak mampu hasilkan uang? Kalah dari Manggarai Timur yang masih Kabupaten baru,” ucap Maksi. (*)






