Dituduh Curi Alat Cukur, Ibu dan Anak di Kupang Hampir Mati Dikeroyok Brutal Satu Keluarga

- Editor

Senin, 16 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dituduh Curi Alat Cukur, Ibu dan Anak di Kupang Hampir Mati Dikeroyok Brutal Satu Keluarga (Gambar Ilustrasi)

Dituduh Curi Alat Cukur, Ibu dan Anak di Kupang Hampir Mati Dikeroyok Brutal Satu Keluarga (Gambar Ilustrasi)

METRO NTT – Suasana sore yang seharusnya tenang di Jalan Fioreti, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, berubah mencekam pada Selasa (17/6/2025) sekitar pukul 17.30 Wita. Seorang ibu rumah tangga berinisial ET (44), yang akrab disapa Emi, bersama putrinya IKK (15), menjadi korban pengeroyokan brutal oleh satu keluarga tetangganya sendiri.

Dugaan pemicu? Hanya karena tuduhan mencuri sebuah alat pemotong rambut.

Peristiwa memilukan ini bermula ketika Emi dan anak gadisnya tengah melintas di depan rumah tetangga mereka. Tiba-tiba, seorang perempuan berinisial AGS menghadang keduanya, lalu dengan nada tinggi menuduh IKK mencuri alat cukur milik keluarganya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dia langsung tuduh anak saya mencuri, tanpa bukti, tanpa dasar. Saya sebagai ibu tentu membela, karena anak saya tidak merasa melakukan,” tutur Emi saat ditemui usai membuat laporan di Polres Kupang, Selasa malam.

Baca Juga:  Kupang Memanas! Mahasiswi Kirim Video Tak Senonoh ke Mantan yang Sudah Punya Pacar! Istri Sah Brimob Bongkar Semua Aibnya!

Namun, niat Emi untuk meluruskan keadaan justru memicu kekerasan yang tak terbayangkan. AGS, bersama suaminya WS dan anaknya AS, diduga langsung melancarkan serangan secara membabi buta. Emi dan putrinya dikeroyok di tengah jalan, tanpa ampun.

“Saya dipukul, dicekik, bahkan diinjak-injak. Sampai saya pingsan dan tidak bisa bernapas. Mereka apit saya di tembok dan terus menghajar,” kisah Emi dengan suara gemetar.

Ia mengaku nyaris kehilangan nyawa. Hanya sebuah tindakan nekat yang menyelamatkannya. “Saya gigit tangan salah satu pelaku agar mereka lepasin saya. Kalau tidak, mungkin saya sudah mati di situ,” katanya lirih.

Putrinya, IKK, juga tak luput dari kekerasan. Remaja itu mendapat pukulan di bagian wajah dan dicekik, hingga mengalami nyeri di kepala dan leher. Emi hanya bisa menangis melihat anaknya dianiaya, karena tenaganya sudah habis untuk bertahan hidup.

Baca Juga:  Keroyok Badut di Denpasar, Dua Pemuda Dibekuk Polisi, Ngaku Sempat Minum Miras Sebelum Beraksi

Setelah berhasil melarikan diri, keluarga Emi langsung menuju Polsek Kupang Tengah untuk melapor. Kasus ini kemudian dilimpahkan ke Polres Kupang. Demi mendapatkan bukti medis, Emi dan IKK dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Titus Uly Kupang untuk menjalani visum.

Pantauan detikBali, Selasa malam sekitar pukul 23.52 Wita, Emi tampak lemas saat hendak dibawa ke rumah sakit. Ia bahkan hampir terjatuh ketika mencoba naik ke mobil polisi. Beberapa petugas terlihat sigap membantu.

“Tadi polisi minta saya langsung ikut BAP (berita acara pemeriksaan), tapi saya minta waktu. Badan saya belum kuat. Jadi rencananya Jumat saya kembali ke Polres,” ujar Emi.

Sementara itu, Kapolres Kupang, AKBP Rudi Junus Jacoc Ledo, memastikan bahwa laporan telah diterima dan kasus ini tengah dalam penanganan intensif. “Saya sudah cek langsung ke Kasat Reskrim. Saksi-saksi sudah mulai diperiksa dan visum juga sudah dilakukan,” tegas Rudi, Rabu (18/6/2025).

Baca Juga:  Heboh, Oknum ASN Diduga Siram Air Panas ke Anak Tiri, Videonya Diviralkan Mantan Suami

Ia menambahkan bahwa karena korban merupakan perempuan dan anak di bawah umur, kasus ini akan menjadi perhatian khusus pihaknya.

“Ini menyangkut perempuan dan anak, jadi kami akan mengatensinya dengan serius. Proses hukum tetap berjalan. Perkembangannya akan disampaikan melalui SP2HP,” pungkasnya.

Kini, warga sekitar masih dibayangi rasa tidak percaya bahwa kejadian tragis seperti itu bisa terjadi hanya karena tuduhan sepele. Sementara Emi dan IKK, masih berjuang memulihkan trauma fisik dan psikis akibat kejadian yang mereka alami.

Kasus ini menjadi cermin kelam bahwa kekerasan antarwarga bisa terjadi kapan saja, bahkan hanya karena tuduhan yang belum terbukti. Dan harapan Emi, hanya satu: keadilan.

Berita Terkait

Usai Pesta Adat Wagal, Dua Warga Cireng Jadi Korban Pengeroyokan di Rawuk Ndoso
Perempuan Asal Malang Ditemukan Tewas di Kamar Kos di Kupang, Baru Dua Hari Keluar dari Rumah Sakit
Antisipasi Laka Lantas dan Balap Liar, Satlantas Polres Manggarai Gelar Patroli Malam
Jejak Perdagangan Komodo hingga Thailand: Kolaborasi Polisi Bongkar Jaringan dari Manggarai Timur
SKCK ADO Dihapus, Polda NTT Tunjukkan Kekuatan Big Data dalam Penegakan Hukum
Pria di Manggarai Ditangkap Usai Bobol Kios, Gasak Kain Songke hingga 200 Kg Kacang, Kerugian Rp18 Juta
ASTAGA! Siswa SMA di Ruteng Sudah Jadi Ayah, Sekolah Masih ‘Menunggu Undangan’
Guru Honorer di Manggarai Barat Ditangkap Usai Curi Motor Pelajar di Ruteng

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:09

Usai Pesta Adat Wagal, Dua Warga Cireng Jadi Korban Pengeroyokan di Rawuk Ndoso

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:08

Perempuan Asal Malang Ditemukan Tewas di Kamar Kos di Kupang, Baru Dua Hari Keluar dari Rumah Sakit

Rabu, 22 April 2026 - 02:05

Antisipasi Laka Lantas dan Balap Liar, Satlantas Polres Manggarai Gelar Patroli Malam

Rabu, 8 April 2026 - 13:38

Jejak Perdagangan Komodo hingga Thailand: Kolaborasi Polisi Bongkar Jaringan dari Manggarai Timur

Minggu, 29 Maret 2026 - 03:58

SKCK ADO Dihapus, Polda NTT Tunjukkan Kekuatan Big Data dalam Penegakan Hukum

Berita Terbaru